Aku lahir bukan dari kemewahan. Tubuhku ditegakkan oleh mimpi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, dari uang yang tak pernah benar-benar berlebih. Karena itulah aku berdiri dalam kesederhanaan. Beranda semen yang belum sempat dipeluk keramik, ruang tamu yang masih kosong dari tawa, ruang televisi yang belum mengenal riuh, empat kamar tidur yang menunggu pemiliknya, sebuah dapur mungil, dan kamar mandi yang baru saja belajar menjadi bagian dari sebuah rumah.
Di belakangku terbentang sebidang tanah yang belum tersentuh. "Nanti kita buat kolam ikan," begitu Bapak pernah berjanji. Janji itu diam-diam kusimpan di setiap bata yang menyusun tubuhku. Di sisi pagar, akar-akar pohon jambu biji mulai merambat perlahan, seolah ingin tumbuh bersamaku, menemaniku menunggu waktu.
Pada hari-hari pertamaku, aku belum benar-benar menjadi rumah. Aku hanyalah bangunan yang berdiri di tengah hamparan pepohonan, dikelilingi sunyi dan desir angin. Belum semua penghuni datang menetap. Hanya Bapak dan putri semata wayangnya, Laras, yang lebih dulu menghidupkan ruang-ruangku.
Laras sering mondar-mandir melewati pintuku. Langkah-langkah kecilnya membuat lantai dan ambang pintuku cepat menghafal jejaknya. Menjelang senja, ketika azan Magrib menggema dari kejauhan dan memenuhi ruang-ruangku, ia akan berdiri di teras, menunggu.
Hari itu, Bapak terlambat pulang.
Senja telah hampir habis ketika seberkas cahaya lampu motor berbelok ke arahku. Sinarnya menyapu dinding dan beranda, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan pintuku. Laras berlari menyambutnya. Pintu yang sedari tadi menunggu akhirnya kembali terbuka. Saat keduanya melangkah masuk, untuk pertama kalinya aku merasakan sesuatu yang tak mampu dijelaskan oleh semen, bata, ataupun kayu.
Aku mulai menjadi rumah.
Malam-malamku kala itu masih gelap. Listrik belum menjangkauku. Dinding-dindingku menjadi tempat bergantungnya lampu-lampu minyak tanah. Di ruang tengah, Bapak dan Laras mengisi lampu-lampu itu dengan tangan yang sabar, lalu menyalakannya satu demi satu. Nyala kecil berwarna keemasan merambat perlahan ke setiap sudut tubuhku, mengusir pekatnya malam. Hangatnya bukan berasal dari api, melainkan dari kebersamaan mereka.
Di sekelilingku belum ada rumah lain. Hanya pohon-pohon jambu biji yang bergoyang setiap kali angin datang menyapa. Setiap pagi, deru motor Bapak menggetarkan lantai terasku sebelum ia berangkat mengajar murid-muridnya. Setelah suara itu menghilang di tikungan jalan, kesunyian kembali memelukku.