Peti itu ditutup untuk terakhir kalinya.
Aku berdiri mematung di depan liang lahat yang masih menganga. Tanah merah yang basah mengeluarkan aroma yang selalu akan kuingat sepanjang hidupku.
Tangan Ibu gemetar saat menebarkan bunga. Kami bertiga berdiri di sisinya. Kak Raka. Aku. Dimas.
Perlahan peti kayu itu diturunkan.
Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain berdoa.
"Selamat jalan, Pak... semoga suatu hari nanti kita berkumpul kembali."
Air mataku bahkan sudah tak mau jatuh lagi.
Begitu banyak orang mengantar kepergian Bapak. Murid-muridnya memenuhi area pemakaman. Motor mereka berbaris panjang. Mobil saudara-saudara memenuhi jalan kecil menuju makam.
Aku baru benar-benar menyadari …
Bapak ternyata dicintai begitu banyak orang.
Perjalanan pulang berlangsung tanpa percakapan.
Ibu hanya memandang ke luar jendela mobil.
Sesampainya di rumah, satu per satu tamu pamit pulang.
Suara doa.
Suara tangisan.
Suara orang-orang yang sejak pagi memenuhi rumah.
Perlahan menghilang.
Kini hanya tersisa empat pasang sandal di depan teras.
Sandal Ibu.
Sandal Kak Raka.
Sandal Dimas.
Dan sandal milikku.
Rumah yang sejak pagi begitu ramai, mendadak menjadi sangat sunyi.
Aku melihat Ibu berdiri mematung di depan pintu. Tangannya masih menggenggam gagang pintu, seolah ada seseorang yang masih akan datang mengetuk dan mengucapkan salam seperti biasanya.
Aku menghampirinya perlahan.
"Bu... ayo duduk dulu. Ibu pasti capek."
Ibu menoleh kepadaku, lalu menggeleng pelan.
"Ibu di sini dulu sebentar," katanya dengan senyum tipis yang dipaksakan.
Aku tidak membujuk lagi. Aku tahu yang sebenarnya sedang ditunggu Ibu bukanlah tamu yang belum pulang, melainkan sosok yang selama puluhan tahun selalu menjadi orang terakhir yang menutup pintu rumah setiap kali kembali dari luar.
Kini pintu itu masih terbuka.
Hanya saja, orang yang biasanya melangkah melewatinya tidak akan pernah pulang lagi.
Aku menatap Ibu, berharap ada kata yang dapat kusampaikan, tapi tidak satupun terasa cukup untuk menghiburnya, akhirnya aku memilih diam.
Kutinggalkan Ibu disana, aku melangkah keluar rumah, duduk dibangku teras. Udara sore menerpa wajahku. Dari tempat aku duduk, terlihat pintu pagar rumah masih terbuka , seolah rumah belum merelakan bahwa seseorang telah pergi untuk selamanya.
Aku menundukkan kepala. Mulai menata napas dan mengusap air mata yang mulai menggenang.
"Heh... ngapain melamun di situ?"
Suara Kak Raka membuatku tersentak.
Matanya masih sembap.
"Sepi ya, Kak."
Ia hanya mengangguk pelan.
Aku mengikuti langkahnya masuk ke dalam rumah.
Begitu melewati pintu, aroma rumah langsung menyergapku.
Tidak berubah.
Seolah rumah ini masih menunggu Bapak pulang mengajar.
Aku duduk di kursi ruang tengah.
Kursi yang dulu hampir setiap malam kami tempati bersama.
Dari arah dapur terdengar suara gelas beradu pelan.
Aku melangkah mendekat. Ibu berdiri di depan bak cuci, membilas satu per satu gelas yang sebenarnya sudah bersih. Tangannya bergerak pelan, seolah tidak ingin pekerjaan itu segera selesai.
Aku tidak berkata apa-apa.
Mungkin mencuci gelas hanyalah alasan agar tangannya tetap sibuk, sementara hatinya berusaha berdamai dengan kehilangan yang baru saja datang.
Tiba-tiba sebuah kenangan tentang Bapak muncul.
Usiaku waktu itu sekitar tiga belas belas tahun.
Aku sedang duduk di teras, sambil mengeluh memandangi sepedaku yang kembali rusak.
Suara langkah Bapak mendekat, sambil membawa beberapa peralatan kecil, duduk disampingku, lalu membalikkan sepeda perlahan.
“Laras, kamu jangan cepat menyerah hanya karena sesuatu atau hal kecil rusak,” kata Bapak sambil tersenyum. “Kadang hanya butuh sedikit kesabaran untuk memperbaikinya”
Aku memperhatikan tanpa banyak bicara.
Saat itu aku belum mengerti mengapa kalimat sederhana itu sering diucapkannya.
Sekarang...
Aku justru merindukan suara Bapak yang selalu mengajarkanku untuk tidak mudah menyerah.
"Mbak..."
Suara Dimas membuyarkan lamunanku.
Ia keluar dari dapur membawa nampan.
"Aku bikin jus jeruk. Di kulkas masih banyak buah yang belum sempat diolah Ibu."
Ia meletakkan gelas di meja.
Aku meneguknya perlahan.
Rasanya segar.
Tetapi ada sesuatu yang terasa hilang.
Kami bertiga duduk tanpa banyak bicara.
Sesekali aku membuka ponsel.
Beberapa pesan dari teman mengingatkanku bahwa sebentar lagi tahun ajaran baru dimulai.
Kami pernah berjanji menyusun bahan ajar bersama.
Seketika aku kembali teringat kata-kata Bapak.
"Bapak senang ada penerus Bapak yang jadi pendidik."
Tangannya yang besar mengusap rambutku.
Aku hanya tertawa.
Saat itu aku menganggap kalimat itu biasa saja.
Kini...
Kalimat sederhana itu justru menjadi salah satu warisan paling berharga.
Aku berjalan mengelilingi rumah.
Aroma kayu tua masih sama.
Kupandangi kosen- kosen jendela, aku kembali teringat, bapak selalu berkata bahwa pintu dan jendela adalah tulang rumah.
"Kalau kerangkanya kuat, rumah akan bertahan lama."
Karena itu bapak memilih kayu terbaik, meskipun saat rumah ini dibangun keadaan ekonomi keluarga belum baik.
Kira-kira sepuluh tahun berlalu.
Kayu-kayu itu kini mulai menua.