Aku segera tahu ada sesuatu yang tidak beres, bahkan sebelum pintu kayuku terbuka.
Tak seperti biasanya, langkah kaki bapak terasa jauh lebih berat saat menapaki lantai yang selama bertahun-tahun kutopang. Deru sepeda motornya, yang biasanya hanya bergetar lembut di dinding-dindingku, sore itu terdengar lebih keras, seolah membawa pulang beban yang tak sanggup lagi dipikulnya sendiri. Aku bertanya-tanya, apa yang sedang terjadi pada bapak ?
Pintu kayuku berderit pelan ketika ia mendorongnya. Dengan langkah gontai, bapak berjalan menuju kursi kayu favoritnya di ruang tamu, kursi yang tak pernah mengeluh menopang tubuh lelahnya sepulang mengajar.
Tak lama kemudian, ibu datang membawa secangkir teh hangat. Ia meletakkannya perlahan di atas meja tamu.
"Kenapa, Pak? Kok mukanya kusut begitu?" tanyanya lirih.
Bapak menghela napas panjang sebelum menyeruput teh yang masih mengepulkan uap.
"Aku kesal, Bu. Masa pengabdianku selama ini seolah tidak dihargai."
"Memangnya kenapa? Tidak dihargai bagaimana sampai selemas ini?" Ibu berdiri di belakang bapak sambil memijat pelan kedua pundaknya.
"Kepala sekolah bilang, kalau nanti disetujui yayasan, aku mungkin mendapat uang pensiun. Tapi kalau tidak disetujui... ya tidak dapat apa-apa." Suara bapak semakin lirih. "Kalau begitu, nanti siapa yang akan membayar uang sekolah anak-anak?"
Ibu terdiam beberapa saat. Lalu ia tersenyum, meski matanya tak sepenuhnya mampu menyembunyikan kegelisahan.
"Sudahlah, Pak. Jangan terlalu dipikirkan. Nanti aku cari tambahan penghasilan, ya. Sekarang bapak istirahat dulu."
Bapak menyandarkan tubuhnya. Kedua kakinya ia luruskan hingga bertumpu di atas meja tamu. Meja itu, seperti aku, telah menjadi saksi perjalanan panjangnya sebagai seorang guru menyaksikan tawa, lelah, harapan, bahkan kecemasan yang tak pernah diucapkan kepada siapa pun.
Ruang tamuku kembali sunyi.
Sedikit demi sedikit, selama bertahun-tahun, ruangan ini diisi dengan berbagai barang hingga akhirnya benar-benar pantas disebut ruang tamu. Awalnya hanya ada sebuah sofa sederhana; yang penting cukup layak untuk diduduki para tamu. Beberapa tahun kemudian, sebuah lemari tua menyusul menempati sudut ruangan. Bapak membawanya pulang dari sekolah. Sejak saat itu, lemari itu menjadi bagian dari keluargaku.
Ibu memanfaatkannya untuk meletakkan bingkai foto keluarga dan sebuah vas bunga. Di bagian bawahnya terdapat beberapa laci yang hampir tak pernah disentuh. Anak-anak pun tak pernah merasa penasaran dengan isinya.
Namun aku tahu.
Aku telah lama menyimpan sebuah rahasia bersama lemari tua itu.
Di salah satu lacinya, bapak menyembunyikan sesuatu yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun.
Aku tidak tahu apakah rahasia itu diketahui oleh ibu, yang pasti setelah kepergian bapak, rumah semakin terasa sepi, seolah kehilangan seseorang bukan saja kehilangan kehadirannya tapi juga meninggalkan jejak yang belum selesai.
Sejak hari itu, rumah tidak lagi menjadi tempat Ibu menghabiskan seluruh waktunya. Ia lebih sering pergi, seakan ada sesuatu yang ingin dijauhinya bukan rumah ini, melainkan kenangan yang terlalu kuat untuk dihadapi seorang diri.
Untuk sementara, ibu tinggal di rumah Mas Raka. Katanya, ia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran dan menjauh sejenak dari kenangan yang selalu mengingatkannya pada bapak.
Karena hari itu aku tidak mengajar, aku dan Dimas sepakat datang ke rumah lebih pagi. Semakin cepat rumah ini dibersihkan, semakin cepat pula rumah ini bisa dijual.
Dimas datang lebih dulu. Saat aku baru menutup pagar, ia sudah berdiri di teras sambil melipat kedua tangannya.
"Lama banget, Ras. Kukira kamu batal datang."
Aku tersenyum sambil mengusap peluh di dahi.
"Macet. Perempatan dekat jembatan perusahaan ekspedisi itu padat sekali."
"Yang penting akhirnya kamu datang juga." Dimas mengambil sapu yang bersandar di dinding. "Yuk, mulai dari mana?"
"Ruang tamu dulu. Debunya pasti sudah setebal selimut."
Kami saling berpandangan, lalu tertawa kecil.
Dimas menuju dapur mencari sapu.
"Dim, sekalian ambilin lap basah, ya!"
"Siap."
Aku mengusap permukaan meja tamu dengan telapak tangan. Seketika jemariku berubah kehitaman.
"Embernya juga, Dim!"
"Ambil sendiri! Di kamar mandi!" balasnya dari kejauhan.
Aku hanya mendengus sambil tersenyum.
Tak lama kemudian kami mulai bekerja. Meja tamu kami geser ke samping. Kursi-kursi diangkat satu per satu. Setiap kali perabot dipindahkan, gumpalan debu beterbangan memenuhi udara.
"Hatsyi...!" Aku bersin berkali-kali sambil menutup hidung.
"Tuh, kan. Kubilang juga debunya sudah kayak gudang," celetuk Dimas.
"Jangan banyak komentar. Bantu angkat meja ini dulu."
Kami mengangkat meja bersama-sama.
"Waduh... berat banget." Dimas meringis. "Ini mejanya dibuat dari apa, sih?"
"Kayu jati, kayaknya."
"Pantesan. Beratnya nggak kira-kira."
Aku tertawa melihat wajahnya yang mulai memerah karena kelelahan.
Setelah meja dipindahkan, lantai di bawahnya tampak jauh lebih kotor daripada yang kubayangkan.
"Dim, karpetnya dulu. Debunya pasti ngumpul di bawah sini."
"Siap, Bos."
Kami menggulung karpet perlahan, lalu meletakkannya di sudut ruangan. Debu kembali beterbangan hingga membuat kami sama-sama batuk.
Tanpa terasa matahari mulai meninggi.
Kulihat Dimas sedang mengepel lantai. Sesekali ia meluruskan pinggangnya sambil mengusap keringat di dahi.
"Dim, mau kubuatin es teh manis?"
Ia langsung menghentikan pelnya.
"Nah, akhirnya. Dari tadi tenggorokanku sudah kering."
Aku tertawa lalu menuju dapur. Untung masih ada teh dan gula. Air segera kumasak. Karena kulkas sudah tidak menyala sejak rumah ini kosong, aku membeli es batu di warung sebelum datang tadi pagi.
Tak lama kemudian, dua gelas es teh manis sudah siap.
Belum sempat kami menghabiskannya, suara pintu pagar terdengar berdecit.
"Kak Raka!" seruku.
Mas Raka masuk sambil membawa beberapa bungkus makanan.
"Maaf telat. Tadi harus masuk kerja dulu."
"Wah ... pas banget, Kak," kata Dimas sambil tersenyum lebar. "Perutku sudah protes dari tadi."
Mas Raka terkekeh, lalu mengacak rambut Dimas seperti biasa.
"Kakak sudah hafal. Kalau kerja bakti begini, pasti ujung-ujungnya yang dicari makanan."
"Ya ... tenaga juga butuh diisi, Kak," jawab Dimas sambil nyengir.
Mas Raka memandang sekeliling ruang tamu yang mulai tampak lebih bersih.
"Sudah sampai mana?"
"Baru selesai meja, kursi, sama karpet," jawabku. "Tinggal dinding. Lihat saja, warnanya hampir kalah sama debu yang nempel."
Mas Raka mengangguk sambil melepas jam tangannya.