Dari seluruh ruangan yang ada di dalam tubuhku, dapur adalah tempat yang paling banyak menyimpan cinta.
Di sinilah suara-suara kecil pernah tumbuh menjadi kenangan: bunyi sendok beradu dengan piring, minyak yang mendesis ketika tahu dan tempe dimasukkan ke dalam penggorengan, air yang mendidih dalam panci, serta suara Ibu yang memanggil dari balik asap masakan.
Aku masih mengingat semuanya.
Aroma nasi liwet yang baru matang. Wangi bawang yang ditumis. Gorengan tahu, tempe, atau ikan yang memenuhi udara. Teh hangat dan kopi yang baru diseduh.
Dan tentu saja suara ibu.
“Siapa yang mau makan?”
Kalimat sederhana itu mungkin terdengar biasa bagi orang lain.
Bagiku, kalimat itu adalah bentuk cinta yang paling sering diucapkan tanpa pernah benar-benar disebut sebagai cinta.
Setiap pagi, langkah Ibu terdengar dari satu sudut ke sudut lain.
Laras harus segera berangkat kuliah.
Dimas belum bisa makan nasi di pagi hari, sehingga ibu menyiapkan minuman sereal untuknya.
Raka selalu meminta dibuatkan nasi dan lauk untuk dibawa ke kantor.
“Biar hemat,” katanya.
Bapak tidak pernah lupa mendapatkan teh hangatnya.
Ibu mengerjakan semuanya hampir tanpa suara keluhan.
Dinding-dindingku menyimpan suara percakapan mereka.
Kadang sederhana.
Kadang lucu.
Kadang juga membuat ibu kesal.
Suatu pagi, bapak pernah berkata,
“Bu, kita sudah tidak punya air minum, ya?”
Ibu yang sedang sibuk di depan kompor langsung menoleh.
“Hah? Air minum habis?”
Bapak hanya tersenyum.
“Ya sudah, kalau begitu, tidak apa-apa.”
Ibu mengernyit.
“Maksud Bapak apa, sih?”
Bapak akhirnya berkata,
“Kan saya mau dibuatkan kopi.”
Ibu terdiam beberapa detik.
“Ya ampun, Pak. Pagi-pagi sudah pakai bahasa sarkasme. Kalau mau kopi bilang saja mau kopi.”
Dimas yang sedang duduk di meja makan langsung tertawa.
Bapak ikut tersenyum.
Begitulah bapak, orangnya baik.
Hanya saja, sering kali kebaikannya dibungkus dengan kalimat-kalimat yang membuat orang harus berpikir dua kali.
Di dapur ini pula, keluarga pernah berkumpul untuk hal-hal kecil yang ternyata menjadi kenangan besar.
Ketika salah satu dari mereka berulang tahun, kursi-kursi akan bergeser mendekat. Doa dipanjatkan bersama. Ibu biasanya memasak sendiri.
Nasi kuning.
Lauk-pauk.
Buah.
Lalu lagu sederhana akan menggema di antara dinding-dindingku.
“Panjang umurnya ... panjang umurnya ...”
Tawa mereka akan memenuhi ruangan.
Untuk beberapa menit, dunia terasa lengkap.
Namun, setelah bapak tidak lagi ada, sesuatu berubah.
Kompor masih menyala.
Rak piring masih tersusun rapi.
Panci masih mengepul.
Meja makan masih berada di tempatnya.
Semuanya masih sama.
Tetapi tidak lagi terasa sama.
Kini makanan dimasak karena harus dimasak.
Bukan karena ada kegembiraan menunggu seseorang duduk di meja makan.
Aroma masakan perlahan kalah oleh aroma kesunyian.
Dan terkadang, ada aroma lain yang lebih sulit dijelaskan.
Aroma air mata.
Ketika Ibu datang, aku sering melihat Ibu berdiri lama di depan kompor.
Tangannya memegang sendok.
Seolah-olah ia sedang menunggu seseorang bertanya,
“Mau dimasakkan apa sekarang?”
Aku tahu siapa yang ditunggunya.
Bapak.
Kehilangan tidak selalu membuat sebuah rumah kosong.
Kadang kehilangan hanya membuat rumah belajar menyimpan kesedihan lebih dalam.
Diam-diam.
Di balik pintu.
Di balik meja makan.
Di balik panci yang terus digunakan meskipun orang yang biasanya duduk di sana sudah tidak ada.
Tetapi rumah tetap menyimpan suara langkah mereka. Menunggu seseorang datang, membuka pintu, lalu menghidupkan kembali ruangan-ruangan yang sempat dipenuhi kesunyian.
Hari itu, Laras datang lebih awal.
Suara motor terdengar memasuki halaman.
Laras segera keluar.
Tak lama kemudian, Dimas turun dari motor, sementara Raka memarkir kendaraannya di garasi.
“Halo, Kak. Ketemu di mana kalian? Bisa boncengan?”
“Aku ke tempat kerja Kak Raka dulu,” jawab Dimas.
Setelah Raka mematikan mesin motor, Dimas mengambil sebuah tas plastik.
“Mbak, ini.”
“Apa?”
“Kue kesukaanmu. Tadi kebetulan lewat tempat yang biasa Mbak beli.”
Wajah Laras langsung berubah cerah.
“Wah, terima kasih, adikku yang baik hati.”
Laras mengambil tas itu dari tangan Dimas.
Kemudian ia menoleh kepada Raka.
“Kak, bagaimana keadaan Ibu?”
Raka tidak langsung menjawab.
Ia meletakkan kunci motornya di atas meja kecil dekat pintu.
“Baik, Ras. Ibu sehat.”
Raka berhenti sebentar.
“Tapi ... kadang masih suka melamun.”
Laras terdiam.
“Aku sudah menyarankan Ibu ikut kegiatan ibu-ibu di RT. Biar ada teman mengobrol. Biar pikirannya tidak terus tertuju pada Bapak.”
Laras mengangguk pelan.
“Mungkin Ibu memang butuh waktu.”
“Semoga.”
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah.
Ruang tamu masih bersih.
Tiga hari sebelumnya mereka sudah membereskannya bersama.
Hari ini, mereka berencana melanjutkan ke ruangan lain.
“Kita mau membersihkan ruangan mana?” tanya Dimas.
Laras tersenyum.
“Dapur.”
Dimas mengangguk.
“Oh iya. Aku ingat, kan mbak Laras memang minta dapur dulu yang dibersihkan hari ini”
Mereka berjalan menuju bagian belakang rumah.
Dapur itu tidak terlalu luas.
Bentuknya sederhana, hampir persegi.
Di salah satu sisinya terdapat meja makan yang sudah lama menjadi tempat keluarga berkumpul.
Tempat yang dulu selalu penuh suara.
Hari itu, meja tersebut hanya diam.
Mereka mulai bekerja.
Dimas membersihkan lemari bagian atas.
Raka mengeluarkan barang-barang dari lemari bagian bawah.
Laras mengelap meja makan, kemudian menyapu lantai.
“Setelah ini kita pel,” katanya.
Tidak ada yang menjawab.
Mereka sibuk dengan pekerjaan masing-masing.
Sampai tiba-tiba suara Dimas memecah keheningan.
“Wah ... ini apa?”
Laras menoleh.
Di tangan Dimas terdapat sebuah bungkusan plastik berisi sesuatu berwarna hitam.
“Oh, mungkin kecap,” kata Laras. “Mungkin Ibu lupa memindahkannya ke botol.”
Dimas mendekatkan plastik itu ke hidungnya.
“Enggak bau.”
“Ya sudah, taruh saja dulu.”
Namun sebelum Dimas sempat menjawab, suara Raka terdengar dari sisi lain.
“Ras, Dim.”
Mereka berdua menoleh.
Raka sedang memegang sebuah kaleng tua.
“Ini kaleng apa?”
Ia mengguncangkannya pelan.
Terdengar suara benda-benda kecil bergerak di dalamnya.
“Seperti ada kertas.”
“Coba dibuka, Kak,” kata Laras.
Raka mencoba membuka tutupnya.
Awalnya sulit.
Ia memutar dan menariknya beberapa kali.