Jika dapur adalah tempat kasih sayang disajikan, kamar adalah tempat mimpi-mimpi dilahirkan.
Di ruang-ruang kecil itulah anak-anak bertumbuh.
Mereka belajar mengenal diri sendiri, memeluk harapan, menyimpan air mata, lalu bangkit kembali dengan keyakinan baru.
Setiap kamar di dalam tubuhku memiliki kehangatan dan kisahnya masing-masing.
Ada kamar yang dipenuhi gelak tawa.
Ada kamar yang menyimpan tangis dalam diam.
Ada pula kamar yang begitu sunyi, tetapi justru menjadi tempat lahirnya doa-doa yang paling tulus.
Semuanya masih kusimpan.
Pada dinding-dindingku.
Pada lantai yang pernah dipijak kaki-kaki kecil mereka.
Pada langit-langit yang setiap malam menjadi saksi mimpi yang mereka bisikkan sebelum tidur.
Aku masih mengingat malam-malam ketika Ibu berjalan perlahan dari satu kamar ke kamar lainnya.
Tangannya membenarkan selimut yang tersingkap.
Mengusap rambut anak-anaknya.
Lalu mengecup kening mereka sebelum lampu dipadamkan.
Tak lama kemudian, Bapak datang membawa cerita.
Anak-anak selalu menunggu saat itu.
Dengan suara tenang, Bapak mendongeng tentang keberanian, kejujuran, dan harapan. Kadang ceritanya sederhana. Kadang berakhir dengan kejutan yang membuat anak-anak tertawa.
Dan aku menyimpan tawa itu.
Tawa yang dahulu memenuhi kamar-kamarku hingga malam terasa begitu pendek.
Aku juga masih mengingat Laras kecil.
Pernah suatu malam ia menangis diam-diam di sudut tempat tidurnya. Dengan tulisan yang masih berantakan, ia membuat sebuah surat untuk bibinya.
Ia berharap mendapat sedikit uang jajan.
Bukan karena manja.
Bukan pula karena tidak cukup diberi.
Ia hanya tidak tega meminta kepada Ibu yang saat itu terlihat begitu sibuk.
Air matanya jatuh di atas kertas.
Tak seorang pun melihatnya.
Tetapi aku melihatnya.
Aku selalu melihatnya.
Aku juga mengingat Dimas.
Suatu sore, dindingku bergetar oleh dentuman lagu-lagu rock yang diputarnya begitu keras.
Baginya, musik adalah cara berbicara ketika kata-kata terasa tidak cukup.
Sementara di kamar sebelah, Raka duduk membungkuk di depan meja belajar. Lampu kecil menyala hingga larut malam.
Buku-buku.
Catatan.
Lembaran tugas.
Semuanya memenuhi meja.
Sesekali musik terdengar pelan dari radio.
Bukan untuk mengganggu keheningan, tetapi menemani perjuangannya meraih masa depan.
Aku menyaksikan semuanya.
Aku menyimpan semuanya.
Bahkan kamar Bapak dan Ibu pun memiliki cerita yang tak kalah hangat.
Di ruangan itu, seluruh keluarga sering berkumpul menjelang malam.
Mereka duduk berdekatan.
Mengucapkan syukur.
Berdoa bersama.
Tidak ada kemewahan di sana.
Namun kehangatan yang memenuhi ruangan itu jauh lebih berharga daripada apa pun yang dapat dibeli.
Aku juga menjadi saksi ketika kehidupan menghadirkan rasa sakit.
Di kamar itulah Ibu pertama kali merasakan mulas menjelang kelahiran anak sulungnya.
Malam itu, Ibu menggenggam tangan Bapak sambil menahan nyeri.
Mereka sempat berniat meminta bantuan dukun bayi seperti kebiasaan pada masa itu.
Namun akhirnya mereka memutuskan pergi ke rumah sakit.
Malam itu, untuk pertama kalinya, tangis seorang bayi memenuhi tubuhku.
Tangis Raka.
Dan sejak malam itu, rumah ini tidak pernah benar-benar sunyi lagi.
Beberapa tahun kemudian, kamar yang sama kembali dipenuhi kecemasan ketika Dimas terkena cacar air.
Hampir dua minggu ia hanya bisa berbaring di tempat tidur.
Aku ingin sekali menghiburnya.
Maka kubiarkan jendela terbuka agar angin pagi masuk membawa udara segar.
Ketika hujan turun, kubiarkan hawa dingin menyentuh ruangan.
Ketika matahari datang, kubiarkan cahayanya menembus sela-sela jendela dan menghangatkan kamar yang mulai pengap.
Aku hanya sebuah rumah.
Namun dengan caraku sendiri, aku ingin membantu mereka sembuh.
Aku juga masih mengingat permainan mereka.
Petak umpet adalah salah satu permainan favorit.
Kolong tempat tidur menjadi tempat persembunyian yang paling sering dipilih.
Aku masih bisa merasakan getaran tawa mereka ketika saling mencari.
Ranjang tempat tidur tak pernah mengeluh meski setiap hari menjadi tempat melepas lelah.
Lemari tetap setia memikul pakaian yang semakin bertambah.
Meja belajar menemani mereka menulis, membaca, menggambar, hingga satu demi satu impian mulai menemukan jalannya.
Karena sesungguhnya, masa depan mereka tidak dimulai di luar rumah.
Masa depan itu dimulai dari kamar-kamar kecilku.
Di sanalah Raka menuliskan cita-citanya.
Di sanalah Dimas membayangkan masa depannya.
Dan di sanalah Laras setiap malam memejamkan mata sambil memeluk guling kesayangannya.
Aku masih mengingat doanya.
“Ya Tuhan ... sembuhkan Bapak.”
Suara itu begitu lirih.
Namun doanya menggema di seluruh dindingku.
Setiap malam Laras juga menitipkan mimpi-mimpinya sebelum tidur.
Ia percaya bahwa doa yang diucapkan sebelum memejamkan mata akan menemukan jalannya menuju langit.
Aku tak pernah lupa.
Meski suatu hari nanti kayuku lapuk.
Meski cat di dindingku mengelupas.
Meski lembap mulai merayapi sudut-sudut tubuhku.
Kenangan yang tersimpan di dalam kamar-kamarku tidak akan ikut rusak.
Sebab di sinilah mereka belajar tertawa.
Belajar menangis.
Belajar memaafkan.
Belajar bermimpi.
Dan yang paling penting ...
belajar menjadi diri mereka sendiri.
Aku percaya, setiap mimpi besar selalu lahir dari ruang yang sederhana.
Begitu pula mimpi Raka, Dimas, dan Laras.
Sebelum dunia mengenal mereka, kamar-kamar kecilku telah lebih dahulu mendengar semua harapan yang mereka bisikkan setiap malam.
Kini mereka telah dewasa.
Waktu memang mampu mengubah wajah manusia.
Bahkan mengubah bentuk sebuah rumah.
Namun waktu tidak pernah benar-benar mampu menghapus kenangan yang pernah ditinggalkan di dalamnya.
Sebab ketika seseorang melangkah keluar dari kamar, ia tidak hanya membawa tubuhnya.
Ia membawa mimpi.
Harapan.
Luka.
Keberanian.
Dan seluruh pelajaran hidup yang pernah tumbuh di dalam ruangan itu.
Aku akan tetap menyimpannya.
Menjaganya.
Mengenangnya.
Sampai kapan pun.
Karena bagiku, rumah bukanlah sekadar tempat seseorang tinggal.
Rumah adalah tempat yang menyimpan bagian dari diri seseorang, bahkan ketika orang itu sudah pergi jauh.
Dan selama masih ada yang kembali, kenangan-kenangan itu seolah belum benar-benar pergi. Rumah masih menyimpan semuanya, menunggu satu per satu sudutnya kembali disentuh dan diingat.
Minggu berikutnya, kami kembali ke rumah.
Setelah ruang tamu dan dapur selesai dibereskan, kali ini kami memutuskan membersihkan kamar-kamar.
Rumah ini memiliki empat kamar anak.
Masing-masing anak mendapatkan satu kamar.
Dan satu kamar untuk Bapak dan Ibu.
“Kita bereskan kamar masing-masing saja,” kata Raka.
Ia menunjuk kamar yang dahulu ditempatinya.
Letaknya di bagian depan dekat ruang tamu.
“Biar cepat selesai.”
Aku mengangguk.
Dulu Bapak memang sengaja menempatkan kamar anak sulung di depan.
Katanya, kalau ada sesuatu yang tidak baik terjadi di sekitar rumah, anak sulung bisa lebih dulu mengetahuinya.
Entah benar atau tidak.
Namun begitulah cara Bapak menjaga rumah.
Dengan caranya sendiri.
“Ayo kita mulai,” kataku. “Biar nanti bisa pulang lebih sore.”
Aku berjalan menuju kamarku.
Tanganku berhenti sebentar di gagang pintu.
Aku menarik napas.
Kemudian membukanya perlahan.
Kamar itu masih seperti yang kuingat.
Hanya saja kasurnya sudah tidak menggunakan sprei.
Meja belajar masih berdiri di sudut kamar.
Meja yang dahulu menemaniku menghadapi ujian, mengerjakan tugas, menulis, bahkan menangis ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginanku.
Beberapa boneka masih tertinggal.
Ibu telah membungkusnya dengan plastik agar tidak berdebu.
Aku membuka gorden.
Cahaya matahari masuk.
Dari jendela, terlihat kebun di samping rumah yang kini mulai dipenuhi rumput liar.
Aku tersenyum kecil.
Ternyata banyak hal berubah ketika seseorang tidak lagi tinggal di sebuah rumah.
Aku mengambil kain lap.
Mulai dari meja.
Kemudian rak.
Setelah itu, baru aku akan menyapu lantai.
“Brak!”
Aku terkejut.
Dimas dan aku hampir bertabrakan di belokan antara ruang tengah dan lorong.
“Hati-hati, Mbak,” katanya sambil menggeleng.
“Maaf, Dim.”
Aku baru ingat sesuatu.
“Eh, aku mau tanya. Kamu tahu pianikaku?”
“Pianika?”
“Iya. Yang dulu ada di lemari. Aku cari-cari kok tidak ada.”
Dimas mengangkat bahu.
“Wah, aku nggak tahu. Aku kan nggak pernah pinjam.”
“Ya sudah.”
Dimas melanjutkan langkah menuju dapur.
Aku justru berbalik menuju kamar Raka.
“Kak!”
Aku menyembulkan kepala dari balik pintu.
Raka sedang membereskan tumpukan buku di rak dekat jendela.
Ia menoleh.
“Ada apa, Ras? Kok teriak-teriak?”
“Kakak lihat pianikaku nggak? Perasaanku dulu aku simpan di laci.”
Raka berpikir sebentar.
“Oh... pianikamu.”
Ia tersenyum.
“Dulu pernah Kakak pinjam.”