Teras adalah bagian dari diriku yang paling sering menyambut manusia sebelum mereka benar-benar masuk ke dalam tubuhku.
Di sanalah kaki-kaki berhenti sejenak. Di sanalah salam pertama terdengar. Di sanalah tamu-tamu duduk sebelum membuka percakapan yang lebih panjang. Bahkan ada yang hanya datang sampai teras, tetapi pulang dengan hati yang terasa lebih ringan.
Aku memang tidak memiliki lantai marmer yang berkilau atau tiang-tiang besar seperti rumah-rumah mewah yang sering kulihat dari kejauhan. Terasku hanya beralaskan keramik sederhana. Namun, selama bertahun-tahun, lantai sederhana itu telah menampung begitu banyak cerita.
Beberapa kursi sering diletakkan berjajar di sana. Sebuah meja kecil menjadi tempat meletakkan cangkir kopi atau teh panas. Pada sore hari, ketika udara mulai sejuk dan matahari perlahan turun, Bapak sering duduk di salah satu kursi itu.
Kadang ia hanya diam.
Tangannya memegang secangkir kopi yang mengepulkan uap tipis. Matanya memandang jalan di depan rumah, tetapi pikirannya entah sedang berjalan ke mana.
Aku hafal diamnya Bapak.
Diamnya bukan berarti tidak ada yang dipikirkan.
Justru sering kali, terlalu banyak yang ada di kepalanya.
"Capek, Pak?" suara Ibu pernah bertanya dari ambang pintu.
Bapak tersenyum kecil.
"Sedikit."
"Sedikit kok wajahnya seperti orang habis mengangkat satu rumah?" Ibu menggoda.
Bapak tertawa pelan.
"Kalau rumah ini bisa diangkat, mungkin sudah dari dulu Bapak pindahkan ke tempat yang lebih tenang."
Aku tahu itu hanya candaan.
Sebab, sejauh yang kuingat, Bapak tidak pernah benar-benar ingin meninggalkanku.
Teras ini juga bukan hanya tempat Bapak melepas lelah. Anak-anak pernah memenuhi ruang kecil ini dengan suara-suara mereka.
Pernah suatu sore, suara nyanyian terdengar bersahut-sahutan.
"Satu, dua, tiga... mulai!"
Suara mereka belum benar-benar kompak. Ada yang terlalu cepat, ada yang terlambat masuk, dan ada yang justru lupa lirik. Tetapi mereka tertawa setelahnya.
"Ulang! Ulang! Tadi suaraku fals!" seru salah seorang anak.
"Memangnya baru sadar?" sahut yang lain.
Tawa mereka pecah.
Aku ikut merasa bahagia.
Bagiku, suara-suara seperti itu adalah tanda bahwa rumah ini masih hidup.
Di waktu yang lain, terasku berubah menjadi tempat senam sederhana. Musik diputar dari telepon genggam. Kursi-kursi disingkirkan. Anak-anak dan orang dewasa bergerak mengikuti irama, meskipun beberapa di antaranya lebih banyak tertawa daripada bergerak.
Aku tidak pernah keberatan.
Aku memang dibuat bukan hanya untuk menjadi tempat orang berlalu-lalang. Aku adalah ruang kecil yang memberi kesempatan kepada siapa pun untuk berhenti, bernapas, berbicara, dan merasa diterima.
Di sudut teras, beberapa pot bunga juga tumbuh menemani hari-hariku.
Bunga-bunga itu mungkin tidak selalu mekar bersamaan. Ada yang cepat tumbuh, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang pernah layu, kemudian hidup kembali setelah disiram dan dirawat.
Aku sering berpikir, manusia juga seperti bunga-bunga itu.
Tidak semua tumbuh dengan cara yang sama.
Tidak semua mekar pada waktu yang sama.
Tetapi bukan berarti salah satunya tidak berharga.
Pot-pot bunga itu membuat terasku terasa lebih ceria. Setiap kali angin bergerak, daun-daunnya bergoyang pelan, seolah menyapaku.
Namun, di antara semua yang pernah terjadi di terasku, ada satu hal yang paling kusukai.
Percakapan.
Sebab dari percakapan-percakapan kecil itulah aku sering mengetahui sesuatu yang tidak pernah mereka ceritakan di dalam ruangan lain.
Di teras, orang-orang sering kali lebih mudah membuka hati.
Mungkin karena mereka tidak merasa sedang berada di dalam ruang yang tertutup.
Mungkin karena udara luar membuat dada terasa lebih lapang.
Atau mungkin karena teras memang memiliki caranya sendiri untuk membuat manusia merasa aman.
Aku telah mendengar banyak keluhan, tawa, rencana, bahkan rahasia yang disampaikan dengan suara sangat pelan.
Dan beberapa hari terakhir, aku merasakan sesuatu yang berbeda.
Ada kegelisahan yang datang dan pergi.
Ada percakapan yang tiba-tiba berhenti ketika seseorang mendekat.
Ada tatapan yang saling menghindar.
Ada sesuatu yang sedang mereka simpan.
Aku tidak tahu apa itu.
Atau mungkin ... aku sebenarnya tahu.
Hanya saja, aku belum siap mengatakannya.
Sebab terkadang rumah tidak hanya menyimpan cerita.
Rumah juga menyimpan waktu.
Dan aku tahu, suatu hari nanti, apa yang disembunyikan akan menemukan jalannya sendiri untuk terbuka.
Aku hanya berharap, ketika hari itu tiba, mereka masih mau duduk bersamaku.
Di teras ini.
Di antara kursi-kursi sederhana, pot-pot bunga, udara sore, dan secangkir teh yang perlahan menjadi dingin.
Sebab bagiku, teras bukan sekadar bagian paling depan dari sebuah rumah.
Teras adalah tempat pertama seseorang merasa diterima.
Tempat lelah boleh diturunkan.
Tempat tawa boleh dilepaskan.
Dan mungkin, tempat sebuah keluarga akhirnya belajar bahwa untuk pulang, seseorang tidak selalu harus membuka pintu.
Kadang, cukup dengan duduk bersama.
Dan saling mendengarkan.
Sore itu, seseorang kembali duduk di terasku. Kali ini, ia datang membawa pikirannya sendiri, bersama kenangan yang perlahan menemukan tempatnya.
Aku duduk sendirian di teras depan rumah.
Sore itu langit tampak berwarna keemasan, seolah matahari enggan segera meninggalkan hari.
Di hadapanku, pagar besi berwarna putih masih berdiri kokoh, meski catnya mulai memudar dimakan usia.
Aku tersenyum kecil mengingat bagaimana dulu Bapak ikut membantu para tukang mengecat pagar itu sepulang mengajar.
"Biar cepat rampung," katanya sambil mengusap keringat di dahinya.
Saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami bahwa setiap sudut rumah ini dibangun bukan hanya dengan semen dan batu, tetapi juga dengan tenaga, waktu, dan pengorbanan.
Kini, ketika semua kenangan itu kembali satu per satu, aku mulai melihat rumah ini dengan cara yang berbeda.
Sebentar lagi kami akan kembali melanjutkan membereskan rumah.
Kak Raka sudah beberapa kali menghubungi tukang untuk memperbaiki bagian-bagian yang rusak agar rumah ini lebih mudah dijual.
Dimas pun mulai menyetujui keputusan itu.
Hanya aku yang masih belum sanggup membayangkan rumah ini benar-benar berpindah tangan.
Dulu, sepanjang jalan di depan rumah dipenuhi pohon jambu biji.
Hampir setiap halaman memiliki pohon yang sama.
Sebagian besar warga menggantungkan hidup dari hasil kebun mereka.
Saat musim panen tiba, jalanan dipenuhi aroma buah yang matang dan suara orang-orang yang saling membantu mengangkut hasil panen.
Kini pohon-pohon itu sudah banyak menghilang, berganti bangunan dan tembok-tembok tinggi.
Aku menyeruput teh hangat yang kubuat sendiri.
Angin sore berembus lembut, membawa aroma tanah yang masih basah setelah hujan semalam. Suasana begitu tenang hingga suara dedaunan yang saling bergesekan terdengar begitu jelas.
Tiba-tiba terdengar bunyi pintu pagar dibuka.
Kreekk...
Aku menoleh.
Seorang lelaki paruh baya berjalan masuk sambil tersenyum ramah. Rambutnya sudah dipenuhi uban, tetapi wajahnya masih sangat kukenal.
"Assalamualaikum, Mbak Laras."
"Waalaikumsalam, Pak Hadi."
Aku segera berdiri dan menyalaminya.
"Alhamdulillah... ternyata benar Mbak Laras. Tadi saya lihat pagar terbuka, saya pikir siapa yang datang. Sudah lama sekali rumah ini kosong."
Aku mempersilakan beliau duduk di bangku kayu di teras.
"Silakan duduk, Pak. Bapak masih tinggal di sini?"
Pak Hadi mengangguk sambil tersenyum.
"Masih, Mbak. Rumah saya kan tidak jauh dari sini."
Aku menuangkan segelas teh hangat untuknya.
"Bagaimana kabar Ibu?" tanyanya.
"Puji Tuhan baik, Pak. Sekarang Ibu tinggal bersama Kak Raka. Kami khawatir kalau beliau tinggal sendirian."
"Iya juga ... usia beliau sudah tidak muda lagi."
Aku mengangguk pelan.
Beberapa saat kami hanya menikmati sore yang mulai meredup.
Lalu Pak Hadi memandang rumah ini cukup lama.
"Kalau boleh tahu ... rumah ini mau dijual, ya?"
Pertanyaan itu membuat dadaku kembali terasa sesak.
"Iya, Pak," jawabku lirih. "Rencananya begitu. Rumah ini sudah mulai banyak yang rusak, sementara kami tidak mungkin terus merawatnya."
Pak Hadi menarik napas panjang.
"Sayang sekali ..."
Beliau terdiam beberapa saat, seolah sedang mencari sesuatu di dalam ingatannya.
"Lihat rumah ini ... saya jadi ingat almarhum Pak Pandi."
Aku mengangkat wajah.
"Dulu beliau pernah datang ke rumah saya."
Aku mendengarkan tanpa menyela.
"Waktu itu beliau bilang sedang mencari pekerjaan tambahan."
Pak Hadi tersenyum kecil mengenang masa itu.
"Saya sempat heran. Saya pikir, sebagai guru, penghasilan beliau sudah cukup."
"Lalu Bapak menjawab apa?" tanyaku pelan.
"Saya bertanya, 'Memangnya masih kurang, Pak?'"
Pak Hadi menatap jauh ke arah jalan.
"Beliau hanya tersenyum."
Kemudian beliau menirukan suara Bapak.
"Anak-anak semakin besar, Pak. Kebutuhan mereka juga ikut bertambah. Saya ingin mereka sekolah setinggi mungkin."
Dadaku mulai terasa hangat.
Pak Hadi melanjutkan ceritanya.
"Saya lalu bertanya kepada beberapa teman. Kebetulan ada yang sedang mencari sopir angkutan kota. Saya sampaikan kepada Pak Pandi."
"Dan Bapak menerimanya?"
"Iya."
Aku menunduk.
Tiba-tiba aku teringat suara pintu rumah yang sering terbuka larut malam ketika aku masih kecil. Saat itu aku hanya mengira Bapak baru pulang mengajar atau menghadiri rapat sekolah.
Tak pernah sedikit pun terlintas bahwa beliau baru selesai bekerja sebagai sopir.
Pak Hadi kembali bercerita.
"Beberapa bulan kemudian beliau datang lagi."
"'Pak Hadi, kalau ada pekerjaan yang penghasilannya lebih baik, kabari saya lagi, ya.'"
Aku semakin diam.
"Beberapa waktu setelah itu, ada lowongan satpam di sebuah kompleks. Saya langsung mengabari beliau."
"Beliau diterima?"
Pak Hadi mengangguk.
"Hampir tiga tahun beliau bekerja sebagai satpam malam."
Aku memejamkan mata sejenak.
Dalam ingatanku, Bapak selalu tampak segar setiap pagi ketika mengantarku ke sekolah.
Tak pernah sekalipun beliau menunjukkan wajah lelah.
Padahal mungkin malam sebelumnya beliau berjaga hingga fajar.
Pak Hadi tersenyum kecil.
"Bapakmu itu luar biasa, Mbak."
Beliau berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi bukan hanya beliau."
Aku menatapnya.
"Ibumu juga pernah datang kepada istri saya."
"Ibu?" tanyaku heran.
"Iya."
"Padahal beliau lulusan administrasi keuangan."
"Istri saya juga heran waktu itu."
"Lalu Ibu bilang apa, Pak?"
Pak Hadi tersenyum tipis.
"Bu, kalau ada tetangga yang butuh orang untuk menjahit atau membuat kue, tolong kabari saya."
Aku membeku.
“Ibumu menerima jahitan hampir setiap malam, lalu pukul tiga pagi sudah bangun lagi untuk membuat kue.”
"Kue-kue itu kemudian dititipkan di warung yang ada di ujung jalan."
Aku memandang jalan kecil yang ditunjuk Pak Hadi.
Warung itu masih ada.
Selama ini aku hanya mengira pemilik warung memang menjual kue buatan sendiri.
Ternyata ...
Kue di warung itu pernah berasal dari tangan Ibu.
Pak Hadi kembali berbicara, kali ini dengan suara lebih pelan.
Aku tidak sanggup berkata apa-apa.
Semua kenangan masa kecilku mendadak berubah makna.
Lampu ruang makan yang menyala sampai larut malam.
Suara mesin jahit.
Aroma kue setiap dini hari.
Selama ini aku mengira semua itu hanyalah kebiasaan Ibu.
Ternyata ...
Itu adalah perjuangan.
Pak Hadi menatapku penuh iba.
"Yang paling saya ingat ..."
Beliau berhenti sejenak.
"Orang tuamu selalu berpesan kepada saya dan istri."
Beliau menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
"Pak ... Bu ... jangan pernah bilang kepada anak-anak kalau kami sedang susah."
Dadaku seakan diremas.
"Biarkan mereka tumbuh dengan bahagia. Kami tidak ingin mereka merasa bersalah hanya karena kami sedang berjuang."
Aku menundukkan kepala.
Tanpa kusadari air mata menetes membasahi punggung tanganku.
Jadi ...
Selama ini mereka sengaja menyembunyikan semuanya.
Bukan karena tidak percaya kepada kami.
Melainkan karena terlalu mencintai kami.
Beberapa saat kemudian Pak Hadi berdiri.
"Saya pamit dulu, Mbak."
Aku mengangguk pelan sambil mengusap air mata.
"Titip salam untuk Ibu, Mas Raka... dan adik yang paling kecil..."
"Dimas, Pak."
"Iya, Dimas."
Beliau melangkah menuju pintu pagar, lalu tiba-tiba berhenti.
"Oh iya..."
Beliau menoleh ke arah bangku kayu di teras.
"Bangku itu..."
"Itu tempat Pak Pandi selalu duduk setiap pulang kerja."
Aku mengikuti arah pandangnya.
Bangku kayu tua itu tampak biasa saja.
Namun kini aku melihatnya dengan cara yang berbeda.
Mungkin di sanalah Bapak melepaskan seluruh lelahnya sebelum masuk ke rumah dengan senyum yang selalu kami kenal.
Setelah Pak Hadi benar-benar pergi, aku menghampiri bangku itu.
Perlahan kugeser untuk membersihkan debu yang menumpuk di bawahnya.
Terdengar bunyi benda kecil bergesekan dengan lantai.
Aku berjongkok.
Di balik salah satu kaki bangku, terselip sebuah buku kecil bersampul cokelat yang hampir tertutup debu.
Sebuah diari.
Tanganku bergetar saat mengambilnya.
Kubersihkan sampulnya perlahan.
Aku memeluk diari itu erat sebelum membawanya masuk ke dalam rumah.
Di luar, langit telah berubah gelap.
Sementara bangku tua itu kembali diam, seolah baru saja menyerahkan rahasia yang telah dijaganya selama bertahun-tahun.
Aku berlari kecil memasuki rumah sambil memeluk diari yang baru kutemukan. Dadaku masih dipenuhi sesak setelah mendengar semua cerita Pak Hadi. Mataku terasa panas, tetapi aku berusaha menahan air mata yang sejak tadi ingin jatuh.
"Kak Raka..."
Suara langkah kakakku terdengar dari ruang tengah.
"Iya, Ras? Kamu dari mana?"
Aku menghampirinya sambil menggenggam erat diari itu.
"Kak... aku menemukan diari Bapak yang kedua."
Kak Raka mengernyitkan dahi.
"Diari kedua?"
Aku mengangguk pelan.
"Iya. Tadi aku menemukannya di bawah bangku teras."
Belum sempat ia bertanya lagi, tatapannya beralih ke wajahku.
"Kamu menangis?"
Aku cepat-cepat menggeleng.
"Nggak apa-apa, Kak."
"Laras..."
Suara Kak Raka melembut.
"Aku kenal kamu. Kalau kamu bilang tidak apa-apa sambil menangis seperti ini, berarti ada sesuatu yang sangat berat."
Aku menarik napas panjang.
"Tadi Pak Hadi datang."
"Pak Hadi?"
"Iya."
"Apa yang beliau bilang?"
Aku menatap diari di tanganku.
"Ternyata... selama ini kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana Bapak dan Ibu membesarkan kita."
Kak Raka masih terdiam.
"Pak Hadi bercerita kalau Bapak bukan hanya seorang guru."
"Apa maksudmu?"
"Sepulang mengajar, Bapak masih bekerja lagi."
"Waktu itu beliau menjadi sopir angkutan kota."
Aku melihat raut wajah Kak Raka mulai berubah.
"Setelah itu Bapak menjadi satpam malam hampir tiga tahun."
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Aku melanjutkan dengan suara yang semakin lirih.
"Ibu juga menerima jahitan sampai larut malam."
"Jam tiga pagi beliau sudah bangun membuat kue untuk dititipkan ke warung."
Kak Raka menatapku tak percaya.
"Ras... kamu yakin?"
Aku mengangguk.
"Pak Hadi sendiri yang menceritakannya."
"Beliau juga bilang ... Bapak dan Ibu berpesan agar semua itu tidak pernah diberitahukan kepada kita."
Aku menyerahkan diari itu ke tangan Kak Raka.
"Kalau Kakak belum percaya ... bacalah."
Tangannya menerima diari itu dengan perlahan.
Ia membuka halaman-halamannya satu per satu.
Ruangan kembali hening.
Yang terdengar hanya suara lembaran kertas yang dibalik.
Sesekali kulihat alis Kak Raka mengerut.
Lalu matanya berhenti pada sebuah halaman.
Ia membaca lebih pelan.
Bibirnya mulai bergetar.
Aku tidak tahu kalimat apa yang sedang dibacanya.
Namun beberapa detik kemudian, ia menutup diari itu perlahan.
Tatapannya kosong.