Ada satu bagian dariku yang jarang didatangi orang.
Letaknya di belakang tubuhku, tersembunyi dari jalan dan hampir tidak pernah menjadi tempat menerima tamu.
Tidak ada kursi tamu yang rapi di sana.
Tidak ada vas bunga yang sengaja diletakkan agar terlihat indah.
Hanya tanah, tanaman, kolam ikan, pagar sederhana, dan berbagai benda yang bagi orang lain mungkin tampak biasa saja.
Tetapi aku tahu, justru di sanalah banyak kehidupan tumbuh.
Halaman belakangku bukan sekadar halaman.
Di sanalah Ibu menjemur pakaian sambil sesekali mengawasi anak-anak bermain.
Bapak sering menghabiskan waktunya mengerjakan berbagai hal.
Kadang ia memberi makan ikan di kolam.
Kadang ia membetulkan aliran air yang mampet.
Kadang ia hanya duduk diam, memandangi air yang bergerak pelan, seolah sedang mencari jawaban dari sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan kepada siapa pun.
Anak-anak pun punya dunia mereka sendiri di sana.
Mereka berlari tanpa alas kaki, mengejar ikan-ikan kecil, tertawa ketika salah satu dari mereka hampir terpeleset, bahkan sesekali nekat menceburkan diri ke kolam.
“Jangan masuk kolam!” suara Ibu sering terdengar dari dalam rumah.
Tetapi biasanya peringatan itu datang terlambat.
Tawa anak-anak lebih dulu memenuhi halaman.
Di sudut lain, Ibu menanam berbagai macam tanaman.
Ada yang tumbuh subur, ada pula yang hanya bertahan beberapa musim.
Di belakang rumah itu juga ada pagar sederhana yang dibuat dari batang-batang singkong.
Tidak mewah, tetapi cukup untuk membatasi halaman sekaligus menjadi saksi bahwa keluarga itu pernah membangun sesuatu dengan tangan mereka sendiri.
Bapak bahkan membuat beberapa kursi kecil dari kayu.
Kursi-kursi itu tidak pernah benar-benar sempurna.
Ada yang kakinya sedikit berbeda panjang.
Ada yang permukaannya tidak terlalu halus.
Namun setiap sore, kursi-kursi itu menjadi tempat Bapak dan Ibu duduk memandang kolam ikan.
Dan ketika malam tiba, setelah anak-anak tertidur, halaman belakang berubah menjadi tempat yang lebih sunyi.
Di sanalah Bapak dan Ibu sering berbincang.
Mereka membicarakan banyak hal.
Tentang kebutuhan rumah.
Tentang pekerjaan.
Tentang sekolah anak-anak.
Tentang masa depan.
Dan terkadang, tentang sesuatu yang bahkan tidak diketahui anak-anak.
Aku masih mengingat suara Bapak pada suatu malam.
“Menurutmu, Raka nanti mau jadi apa?”
Ibu terdiam sebentar sebelum menjawab.
“Entahlah. Yang penting dia menjadi orang baik.”
“Kalau Laras?”
Ibu tersenyum kecil.
“Laras masih terlalu kecil. Tapi aku ingin dia tumbuh menjadi anak yang tidak mudah menyerah.”
Bapak mengangguk.
“Semoga kita bisa melihat mereka sampai dewasa.”
Aku diam mendengarkan.
Saat itu aku belum tahu bahwa harapan sederhana seperti itu suatu hari akan terasa begitu mahal.
Anak-anak mengira halaman belakang hanyalah tempat untuk menjemur pakaian, menyiram tanaman, atau bermain.
Mereka tidak tahu bahwa tanah yang mereka injak pernah menjadi tempat Bapak dan Ibu menaruh banyak harapan.
Mereka tidak tahu bahwa di antara suara air kolam dan gesekan daun, kedua orang tua itu sering bertukar pikiran tentang bagaimana menjaga keluarga mereka tetap utuh.
Mereka juga tidak tahu bahwa ada percakapan yang sengaja tidak pernah dibawa masuk ke ruang tengah.
Mungkin karena beberapa hal memang lebih mudah diucapkan ketika malam telah turun dan anak-anak sudah tertidur.
Suatu sore, Laras datang bersama Ibu.
“Aku bantu menyiram tanaman ya, Bu.”
Ibu menyerahkan selang kepadanya.
“Boleh. Tapi jangan terlalu banyak airnya.”
Laras mulai menyiram tanaman satu per satu. Sesekali ia berhenti untuk memperhatikan bentuk daun yang menurutnya menarik.
Sampai akhirnya matanya tertuju pada sebuah tanaman berdaun lebar dan bergelombang.
“Bu, ini tanaman apa?”
Ibu mendekat.
“Itu Anthurium.”
“Anthurium?”
Ibu mengangguk.
“Ibu sudah lama menanamnya.”
Laras memperhatikan tanaman itu lebih dekat.
“Sejak kapan?”
Ibu tersenyum.
“Sejak kamu masih kecil.”
Laras terdiam sebentar.
“Waktu aku belum lahir?”
“Iya.”
“Berarti waktu itu Kak Raka masih kecil?”
“Iya.”
Ibu mengusap salah satu daun Anthurium yang lebar.
“Waktu itu Ibu mengantar Kak Raka ke sekolah. Di perjalanan, Ibu melihat seorang bapak tua berjualan tanaman di pinggir jalan.”
“Terus Ibu beli tanaman ini?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Ibu tersenyum.
“Entahlah. Mungkin karena Ibu kasihan melihatnya. Tanamannya banyak, tetapi tidak ada yang membeli.”
Laras tertawa kecil.
“Jadi Ibu membeli karena kasihan?”
“Awalnya begitu.”
Ibu berhenti sejenak.
“Waktu Ibu membeli tanaman ini, bapak itu bilang sesuatu.”
“Apa?”
Ibu memandang Anthurium itu cukup lama sebelum menjawab.
“Dia bilang, ‘Semoga pohonnya awet, Bu.’”
Laras kembali melihat tanaman itu.
“Dan ternyata awet.”
“Lebih awet dari yang Ibu kira.”
“Berarti umurnya hampir sama dengan Kak Raka?”
Ibu mengangguk.
“Bahkan mungkin lebih tua sedikit.”
Laras tersenyum.
“Wah, berarti Anthurium ini sudah melihat banyak hal, ya, Bu?”
Aku hampir tertawa mendengar pertanyaan itu.
Seandainya Laras tahu.
Seandainya ia tahu bahwa tanaman itu memang sudah melihat banyak hal.
Ia telah melihat Raka berlari-lari di halaman dengan lutut yang terluka.
Ia telah melihat Laras belajar berjalan.
Ia telah melihat Ibu menangis diam-diam ketika sedang mencuci pakaian.
Ia telah melihat Bapak duduk lama di kursi kayu tanpa berkata apa-apa.
Ia juga telah melihat kedua orang tua itu berbicara tentang masa depan anak-anak mereka.
Dan seperti diriku, Anturium itu tidak pernah menceritakan apa pun.
Karena ada hal-hal yang hanya bisa disimpan oleh mereka yang tumbuh dalam diam.
Hari mulai sore.
Laras selesai menyiram tanaman. Ibu mengajaknya masuk.
“Sudah. Nanti keburu gelap.”
Laras menoleh sekali lagi ke arah Anthurium.
“Bu, besok aku siram lagi, ya.”
Ibu tersenyum.
“Boleh.”
Laras kemudian berlari meninggalkan halaman belakang.
Langkah kecilnya semakin menjauh.
Aku kembali sunyi.
Hanya suara air kolam yang bergerak perlahan dan daun-daun yang bergesekan diterpa angin.
Namun aku tahu, halaman ini tidak pernah benar-benar kosong.
Tanah di bawah kaki anak-anak itu menyimpan jejak langkah mereka sejak kecil.
Kolam menyimpan tawa mereka.
Kursi kayu menyimpan percakapan Bapak dan Ibu.
Pohon jambu biji di dekat kolam menyimpan musim-musim yang telah lewat.
Dan Anthurium itu ...
menyimpan waktu.
Anak-anak mungkin mengira mereka hanya sedang bermain di halaman belakang.
Padahal, tanpa mereka sadari, mereka sedang berjalan di atas begitu banyak kenangan.
Mereka tidak pernah tahu bahwa tanah yang mereka injak lebih banyak menyimpan cerita daripada yang mampu diceritakan oleh sebuah rumah.
Dan aku ...
hanya bisa menyimpannya dalam diam.
Sampai suatu hari, mungkin mereka akan kembali ke halaman ini bukan sebagai anak-anak.
Melainkan sebagai orang dewasa yang akhirnya mengerti,
bahwa ada cinta yang tidak pernah pandai berbicara,
tetapi selalu memilih untuk tinggal.
Mungkin hari itu mulai tiba. Kami kembali bukan hanya untuk mengenang, tetapi juga untuk membereskan apa yang selama ini tersimpan di rumah ini.
Rumah itu akhirnya bersih, mulai dari ruang tamu, ruang keluarga, kamar-kamar, dapur, sampai halaman belakang yang selama ini menjadi tempat kami menyimpan begitu banyak kenangan.
Debu-debu yang menempel telah dibersihkan.
Barang-barang yang berserakan telah dirapikan.
Seolah-olah kami sedang mempersiapkan rumah ini untuk meninggalkan kami.
Atau mungkin, kami yang sedang mempersiapkan diri untuk meninggalkannya.
Aku tidak tahu siapa yang sebenarnya sedang bersiap untuk berpisah.
Yang kutahu, hari itu sesuatu mulai berubah.
Kak Raka datang membawa sebuah map berwarna cokelat.
Ia meletakkannya di atas meja ruang keluarga.
Aku tahu apa isinya bahkan sebelum map itu dibuka.
Dokumen penjualan rumah.
Aku menatap map itu cukup lama.
“Sudah selesai, Kak?”
Kak Raka mengangguk.
“Sudah.”
Hanya satu kata.
Namun bagiku, kata itu terasa seperti pintu yang perlahan ditutup.
Aku menatap Kak Raka.
“Jadi ... benar-benar jadi dijual?”
Kak Raka menarik napas panjang.
“Ras, Kakak tahu kamu tidak mau rumah ini dijual.”
“Bukan hanya aku, Kak. Ini rumah kita.”
“Aku tahu.”
“Kalau Kakak tahu, kenapa tetap dijual?”
Kak Raka duduk di kursi, lalu membuka map itu.
Beberapa lembar dokumen terlihat di dalamnya.
“Karena kita harus realistis.”
Aku terdiam.
“Rumah ini butuh biaya perawatan.
Pajaknya juga harus dibayar.
Atapnya mulai rusak.
Saluran air harus diperbaiki.
Dan kita tidak tinggal di sini lagi.
Kalau terus dipertahankan, siapa yang akan mengurus semuanya?”
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang.
Seolah-olah yang sedang dibicarakan hanyalah sebuah bangunan tua.
Bukan rumah tempat kami tumbuh.
Bukan tempat Ibu dan Bapak membesarkan kami.
Bukan tempat kami pernah tertawa, menangis, bertengkar, lalu kembali saling memaafkan.
Aku memandangi dokumen itu.
“Memangnya semua harus selesai di atas selembar kertas, Kak?”
Kak Raka menatapku.
“Laras ...”
“Kalau rumah ini dijual, lalu semua yang pernah terjadi di sini mau kita simpan di mana?”
Kak Raka menghela napas.
“Aku tidak menjual kenangan kita.”
“Tapi Kakak menjual tempat kenangan itu hidup.”
Suasana mendadak sunyi.
Aku bisa merasakan sesuatu mulai retak.
Bukan rumah.
Tapi kami.
Kak Raka kembali melihat dokumen di hadapannya.
“Aku tetap akan menjual rumah ini.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Kenapa?”
“Bukan karena Kakak tidak menyayangi rumah ini.”
“Lalu?”
“Justru karena Kakak menyayanginya, Kakak tidak mau rumah ini suatu hari menjadi sumber masalah baru.”
Aku terdiam.
Ada benarnya.
Aku tahu ada biaya yang harus dibayar. Ada tanggung jawab yang harus dipikul. Rumah tua tidak bisa hanya dipertahankan dengan perasaan.
Tetapi bukankah beban itu bisa kami pikul bersama?
Bukankah masih ada jalan lain?
“Kak ...” suaraku mulai bergetar. “Aku tetap tidak setuju rumah ini dijual.”
Kak Raka menatapku.
“Laras, kamu tahu kita tidak bisa terus-menerus hidup di masa lalu.”
Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang mungkin ia sadari.
Aku berdiri.
“Masa lalu?”
“Iya.”
“Justru masa lalu itulah yang berjasa kepada kita, Kak!”
Suaraku meninggi.
“Bapak dan Ibu menghabiskan hidup mereka di rumah ini.
Mereka membangun rumah ini sedikit demi sedikit.
Mereka membesarkan kita di sini.
Mereka menanam pohon, memperbaiki atap, membuat pagar, bahkan membuat kursi-kursi kecil di halaman belakang.
Apa semua itu hanya masa lalu yang harus kita tinggalkan?”
Kak Raka ikut berdiri.
“Dan apakah karena semua itu, kita harus terus memikul sesuatu yang mungkin sudah tidak sanggup kita pertahankan?”
Aku terdiam.
Untuk pertama kalinya, aku melihat Kak Raka bukan sebagai kakak yang selalu tahu apa yang harus dilakukan.
Aku melihat seseorang yang sedang lelah.
Sangat lelah.
Dimas yang sejak tadi diam akhirnya bersuara.
“Aku bingung.”
Ia memegang kepalanya dengan kedua tangan.
“Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana.”
Ia menatap kami bergantian.
“Kak Raka punya alasan. Mbak Laras juga punya alasan.
Tapi kalau kalian terus seperti ini, aku malah semakin bingung.”
Kak Raka tertawa kecil, tetapi bukan tawa bahagia.
“Kalian berdua tidak tahu bagaimana rasanya menjadi anak pertama.”
Dimas mengangkat wajah.
“Kak ...”
“Sejak kecil, Kakak selalu diminta bertanggung jawab.”
Suara Kak Raka mulai berubah.
“‘Kamu anak pertama. Harus jadi contoh untuk adik-adik.’”
Ia menirukan suara Ibu yang pernah begitu akrab di telinga kami.
“Kalau kalian salah, Kakak yang ditanya. Kalau kalian bertengkar, Kakak yang diminta mengalah. Kalau Bapak dan Ibu pergi, Kakak yang harus menjaga kalian.”
Aku menatapnya.
Kak Raka melanjutkan.
“Kalian kira menjadi anak pertama itu tidak melelahkan?”
Dimas tiba-tiba membalas.
“Dan Kakak kira menjadi anak yang selalu dibanding-bandingkan itu tidak melelahkan?”
Kak Raka terdiam.
Dimas menunduk.
“‘Lihat kakakmu, rajin belajar.’”
Suara Dimas terdengar menirukan ucapan yang pernah berkali-kali ia dengar.
“‘Kenapa kamu tidak seperti Kak Raka?’”
Aku mulai mengerti ke mana arah percakapan ini.
Tetapi semuanya sudah terlambat.
Kak Raka menghela napas.
“Mungkin waktu itu kamu memang malas belajar.”
Dimas menatapnya.
“Nah!”
Suaranya meninggi.
“Itu dia, Kak. Sampai sekarang Kakak masih berpikir begitu.”
“Dimas, Kakak tidak bermaksud”
“Tapi Kakak selalu merasa paling benar!”
Ruangan kembali sunyi.
Aku ingin menghentikan mereka.
Namun sebelum aku sempat berkata apa-apa, Dimas sudah melanjutkan.
“Kakak selalu dipercaya. Pendapat Kakak selalu didengar. Kalau Kakak bicara, semua orang menganggap Kakak tahu yang terbaik.”
Ia menunjuk dirinya sendiri.
“Sedangkan aku?”
Suaranya melemah.