Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar merasa sunyi.
Bukan sunyi karena tidak ada siapa-siapa.
Aku masih memiliki tiga anak yang pernah tumbuh di dalam diriku.
Tetapi malam itu, mereka tidak lagi berada dalam satu hati yang sama.
Setelah pertengkaran besar itu, tidak ada yang memanggil Laras untuk kembali.
Tidak ada suara Raka yang mencoba menenangkan.
Tidak ada Dimas yang membantah.
Tidak ada tawa yang biasanya muncul setelah pertengkaran kecil mereka.
Pintu tertutup rapat.
Dan aku kembali sendiri.
Aku sebenarnya ingin mengatakan banyak hal kepada mereka.
Tentang apa yang pernah kusaksikan.
Tentang apa yang kusimpan.
Tentang rahasia yang selama ini membuat mereka salah memahami satu sama lain.
Namun aku tahu, ada hal-hal yang tidak bisa dipaksa untuk ditemukan.
Ada kebenaran yang baru bisa dipahami ketika seseorang sudah cukup dewasa untuk
menerimanya.
Malam semakin larut.
Lalu aku mendengar suara langkah kaki.
Aku mengenal suara itu.
Laras.
Namun kali ini, langkahnya berbeda.
Ia tidak datang untuk pulang.
Ia datang untuk mencari sesuatu.
Atau mungkin, untuk mencari dirinya sendiri.
Laras berdiri beberapa saat di sudut rumah.
Ia seperti tidak tahu harus pergi ke mana.
Tetapi kakinya tahu ke mana harus melangkah.
Pelan-pelan, ia memasuki ruang tamu.
Ia memandangi jendela.
Kemudian kursi tempat Bapak biasa duduk.
Untuk sesaat, kenangan lama kembali hidup di dalam diriku.
Bapak pulang mengajar dengan wajah lelah.
Di tangannya ada sebungkus kue.
Belum sempat ia meletakkannya di meja, anak-anak sudah berlari.
“Bapak pulang!”
“Mana kuenya, Pak?”
“Besok bawa lebih banyak, ya!”
Tawa mereka memenuhi ruangan.
Tawa itu seakan masih tertinggal di rumah, melekat pada benda-benda yang dulu dianggap biasa. Pandangan Laras kemudian jatuh pada bangku itu.
Dulu, mereka hanya melihat bangku itu sebagai tempat Bapak beristirahat.
Kini Laras melihatnya dengan cara berbeda.
Ia mulai memahami bahwa seorang Bapak bisa pulang dengan tubuh yang lelah, tetapi tetap membawa sesuatu untuk membuat anak-anaknya tersenyum.
Laras menyentuh sandaran kursi itu pelan.
“Bapak pasti capek waktu itu,” gumamnya.
Aku ingin menjawab.
Iya, Laras.
Tetapi ada banyak orang tua yang memilih menyembunyikan lelahnya agar anak-anak mereka tidak ikut merasakannya.
Laras kemudian berjalan menuju ruang keluarga.
Ruangan tempat pertengkaran itu terjadi.
Ia berhenti.
Meja itu masih ada.
Kursi-kursi yang mereka gunakan masih berada di tempatnya.
Dokumen penjualan rumah sudah tidak ada.
Tetapi suara mereka seolah masih tertinggal di dindingku.
Raka yang merasa harus selalu bertanggung jawab.
Dimas yang merasa pendapatnya tidak pernah benar-benar didengarkan.
Dan Laras yang selama ini berusaha memahami semuanya sendirian.
Laras menarik napas panjang.
Dulu mereka jarang bertengkar.
Kalaupun bertengkar, biasanya tidak pernah lama.
Raka selalu menjadi orang pertama yang membela Laras.
Ketika Dimas dibuli teman sekolah, Raka juga yang berdiri di depannya.
Seringkali mereka pernah pergi bersama mencari makanan yang sedang ramai dibicarakan.
Makan bertiga.
Bercerita.
Bertengkar kecil.
Lalu tertawa lagi.
Dulu, mereka tidak pernah menghitung siapa yang paling terluka.
Namun setelah dewasa, luka-luka lama ternyata ikut tumbuh bersama mereka.
Laras tertunduk, matanya tertuju ke lantai.
“Mungkin selama ini kami bukan tidak saling menyayangi,” katanya perlahan.
Ia terdiam.
“Kami hanya terlalu sibuk ingin dimengerti.”
Aku membisu.
Karena untuk pertama kalinya, Laras mulai melihat pertengkaran mereka bukan sebagai pertarungan untuk menentukan siapa yang benar.
Tetapi sebagai tiga anak yang sama-sama membawa luka.
Aku mengenal langkah itu.
Langkah seseorang yang tidak lagi ingin mencari siapa yang harus disalahkan.
Laras mulai memahami bahwa luka tidak selalu membutuhkan pemenang.
Kadang, luka hanya ingin dimengerti.
Laras berjalan melewati kamar Raka.
Ia tidak masuk.
Hanya berdiri di depan pintunya.
Di sana, aku kembali mengingat Raka kecil.
Ketika pertama kali Raka belajar berjalan
Aku masih ingat ketika Ibu memarahinya, karena ulahnya membuat Laras menangis
Ketika Raka semakin besar dan mulai bisa melakukan banyak hal sendiri.
Ibu mulai sibuk membuat kue dan menjahit.
Bapak pun sering mengajarinya satu hal,
“Raka, kamu kakak. Belajarlah mengalah kepada adik-adikmu.”
Raka mengangguk.
Ia belajar menjadi kakak.
Belajar menjaga.
Belajar mengalah.
Belajar bertanggung jawab.
Terlalu cepat.
Kadang-kadang aku melihatnya menangis diam-diam di kamarnya.
Bukan karena ia tidak menyayangi adik-adiknya.
Tetapi karena ia juga ingin menjadi anak kecil.
Anak yang boleh bermain.
Anak yang boleh salah.
Anak yang sesekali ingin dijaga.
Laras menatap pintu kamar itu lama.
“Selama ini aku melihat Kak Raka sebagai kakak,” katanya.
Ia tersenyum tipis.
“Bukan sebagai seorang anak yang dulu juga pernah merasa lelah.”
Kemudian Laras berjalan menuju kamar Dimas.