Rumah yang Tidak Pernah Dijual

Cicilia Aprilla Widyastuti
Chapter #10

BAB 9 - Rumah

Pukul empat sore.

Matahari mulai condong ke barat ketika sebuah mobil memasuki halaman rumah.

Aku berdiri di ruang tamu bersama Kak Raka dan Dimas.

Hari ini, rumah akan kedatangan pemilik barunya.

Entah mengapa, meskipun kami sudah sepakat, dadaku tetap terasa sesak.

Bukan karena aku ingin membatalkan semuanya.

Bukan lagi.

Aku hanya belum tahu bagaimana rasanya menyaksikan sesuatu yang selama ini menjadi bagian dari hidup kami berpindah kepada orang lain.

Mobil berhenti.

Pintu terbuka.

Seorang laki-laki turun lebih dahulu, disusul seorang perempuan dan seorang anak perempuan kecil yang usianya mungkin sekitar tiga tahun.

Anak itu langsung berdiri di samping ibunya dan memegang ujung bajunya erat-erat.

Kak Raka melangkah keluar.

“Selamat datang di rumah kami, Pak, Bu.”

Ia menyalami mereka satu per satu.

Laki-laki itu tersenyum.

“Saya Sapto. Ini istri saya dan anak kami.”

“Saya Raka,” kata Kak Raka. “Ini kedua adik saya, Laras dan Dimas.”

Aku mengangguk dan tersenyum.

“Silakan masuk.”

Mereka melangkah melewati pintu.

Aku melihat anak kecil itu menoleh ke kanan dan ke kiri.

Matanya berbinar melihat rumah yang luas.

Untuk sesaat aku membayangkan diriku sendiri bertahun-tahun lalu.

Anak kecil yang juga pernah berdiri di tempat yang sama.

Sama-sama memandang rumah ini dengan rasa ingin tahu.

Kami mempersilakan mereka duduk di ruang tamu.

Ibu Sapto tampak ramah.

Pak Sapto lebih banyak mengamati sekeliling.

Anak perempuan kecil itu masih bersembunyi di samping ibunya.

“Kami boleh melihat-lihat rumahnya dulu?” tanya Ibu Sapto.

“Tentu,” jawab Kak Raka.

Mereka berdiri.

Kak Raka berjalan di depan, menjelaskan bagian-bagian rumah.

“Kalau kondisi bangunan secara umum masih aman, Pak. Hanya kolam di belakang yang sudah lama tidak diisi air.”

Ia tertawa kecil.

“Sekarang malah kering.”

Pak Sapto ikut tersenyum.

“Dan keramik di halaman belakang,” lanjut Raka. “Beberapa sudah retak.”

Pak Sapto mengangguk.

“Kalau kamarnya ada berapa?”

“Empat kamar. Satu kamar utama dan tiga kamar anak.”

“Lumayan banyak.”

Kami berjalan dari satu ruangan ke ruangan lain.

Ruang tamu.

Ruang keluarga.

Kamar Raka.

Kamar Dimas.

Kamarku.

Setiap kali Kak Raka menyebut nama sebuah ruangan, ingatanku seperti membuka pintu lain.

Aku mencoba tetap tenang.

Namun rumah ini terlalu penuh kenangan untuk sekadar dipandang sebagai bangunan.

Sesampainya di halaman belakang, Pak Sapto kembali bertanya.

“Luas tanahnya berapa, Dik?”

“Hampir lima ratus meter persegi, Pak. Kurang lebih segitu.”

“Lumayan luas.”

Ia melihat ke sekeliling.

“Yang akan tinggal di sini siapa?”

“Istri dan anak saya,” jawab Pak Sapto. “Kalau saya lebih banyak dinas luar. Paling sebulan sekali pulang.”

Aku menatap anak perempuan kecil itu.

Ia sedang memandangi halaman.

Tiba-tiba aku teringat diriku sendiri.

Dulu, ketika pertama kali datang ke rumah ini bersama Bapak, aku berlari mengitari halaman tanpa henti.

Rumah ini terasa begitu luas bagiku.

Aku berlari terlalu jauh sampai Bapak harus mencariku.

“Laras!”

Suara Bapak seperti kembali terdengar.

Aku tersenyum kecil.

Ternyata kenangan tidak pernah benar-benar pergi.

Ia hanya menunggu seseorang menyentuh tempat yang tepat untuk membangunkannya.

Kami kembali ke ruang tamu.

Pak Sapto duduk.

Istrinya duduk di sebelahnya.

Kak Raka mengambil posisi di hadapan mereka.

“Jadi bagaimana, Pak, Bu?” tanyanya. “Setelah melihat kondisi rumahnya, apakah Bapak dan Ibu tetap berminat?”

Pak Sapto mengangguk.

“Kalau melihat kondisi keramik belakang dan beberapa bagian bangunan, harga yang kemarin masih bisa turun sedikit?”

Ia melirik istrinya.

Ibu Sapto mengangguk pelan.

Dadaku langsung terasa panas.

Hampir saja aku menyela.

Bukan.

Bukan karena aku tidak rela rumah ini dijual.

Aku sudah merelakannya.

Tetapi mendengar harga rumah ini ditawar membuatku tiba-tiba merasa seolah-olah semua yang pernah terjadi di dalamnya sedang dihitung dengan angka.

Berapa harga meja makan tempat kami makan bersama?

Berapa harga kamar tempat kami menangis?

Berapa harga dinding yang mencatat tinggi badan kami?

Berapa harga tawa Bapak?

Berapa harga pengorbanan Ibu?

Aku tahu semua itu tidak mungkin dihargai dengan uang.

Dan mungkin itulah sebabnya aku diam.

Kak Raka menjawab dengan tenang.

“Maaf, Pak. Harga yang kemarin saya sampaikan lewat WhatsApp itu sudah merupakan kesepakatan kami bertiga. Jadi kami tidak bisa menurunkannya lagi.”

Pak Sapto berpikir sebentar.

Kemudian mengangguk.

“Baiklah.”

Ia menoleh kepada istrinya.

“Kalau begitu, bagaimana?”

Ibu Sapto tersenyum.

“Saya suka rumahnya.”

Pak Sapto mengangguk.

“Anak saya juga sepertinya suka.”

Aku melihat anak kecil itu.

Ia sedang memegang ujung kursi.

Entah mengapa, aku merasa lega.

Mungkin rumah ini tidak benar-benar berakhir.

Mungkin ia hanya akan memulai cerita baru.

Pak Sapto kemudian bertanya,

“Untuk surat-suratnya bagaimana, Dik? Sertifikat tanah, bukti pembayaran pajak?”

“Aman, Pak,” jawab Raka. “SHM dan dokumen lainnya lengkap. Pajak juga sudah kami selesaikan.”

“Baik.”

Raka mengangguk.

“Kalau begitu kita bisa lanjut ke tahap berikutnya. Tinggal tanda tangan surat perjanjian jual beli dan proses selanjutnya di PPAT.”

Aku terdiam, mataku tertuju ke lantai

Kata-kata itu terasa seperti palu yang mengetuk sesuatu di dalam dadaku.

Dua kata sederhana.

Tetapi hari ini, dua kata itu seperti sedang menutup sebuah bab dalam hidup kami.

Sebenarnya sejak kemarin aku sudah tahu bahwa hari ini akan tiba.

Setelah berbulan-bulan berbeda pendapat, kami akhirnya duduk bersama.

Tidak ada lagi suara tinggi.

Tidak ada lagi saling menyalahkan.

Kami membicarakan rumah ini dengan kepala dingin.

Kami menghitung biaya perbaikan.

Kami memikirkan keadaan Ibu.

Kami memikirkan masa depan kami masing-masing.

Akhirnya kami sepakat.

Rumah ini akan dijual.

Bukan karena kami sudah tidak mencintainya.

Tetapi karena kami sadar bahwa mempertahankannya tidak selalu berarti mencintainya.

 

Sebelum keputusan itu benar-benar dibuat, kami bertiga datang menemui Ibu.

Ibu mendengarkan semuanya dalam diam.

Kemudian tersenyum.

“Ibu rela kalian menjual rumah itu.”

Aku menatapnya.

“Benarkah, Bu?”

Ibu mengangguk.

“Memang banyak kenangan yang tertinggal di sana.”

Ia menarik napas.

“Tapi yang paling penting bagi Ibu adalah kalian bertiga tetap rukun.”

Ibu menatap kami satu per satu.

“Saling membantu. Jangan saling meninggalkan. Apalagi nanti kalau Ibu sudah tidak ada.”

“Bu ... jangan bicara begitu.”

Aku langsung memeluknya.

“Semoga Ibu tetap sehat.”

Aku menangis.

“Dan ... kami juga mau minta maaf.”

Ibu mengusap punggungku.

“Untuk apa?”

“Karena kami sempat bertengkar. Kami sempat merasa Bapak dan Ibu tidak adil kepada kami.”

Ibu tersenyum.

“Sudahlah, Nak.”

Ia menatap kami bertiga.

“Ibu dan Bapak tidak pernah membeda-bedakan kalian.”

Kemudian Ibu berkata pelan,

“Di mata Bapak dan Ibu, kalian semua sama.”

Ia tersenyum.

“Anak-anak kami yang paling hebat.”

Aku memeluk Ibu lebih erat.

Saat itu aku mengerti.

Yang Ibu takutkan bukan kehilangan rumah.

Yang Ibu takutkan adalah kehilangan anak-anaknya.

Untuk beberapa saat, aku membiarkan kalimat itu tinggal di kepalaku. Rasanya seperti baru sekarang aku benar-benar memahami apa yang selama ini ingin Ibu sampaikan.

 “Laras?”

Suara Kak Raka mengembalikanku ke ruang tamu.

“Kita tinggal tanda tangan.”

Aku mengangguk.

Baru kemudian aku sadar bahwa sejak tadi aku bahkan belum menawarkan minum.

Aku berdiri.

“Mau minum apa, Pak, Bu? Teh atau kopi?”

Ibu Sapto tersenyum.

“Tidak usah repot-repot, Dik.”

“Kami memang tidak lama,” tambah Pak Sapto. “Setelah ini masih ada yang harus kami urus.”

“Oh ... baik, Pak.”

Lihat selengkapnya