Bau kayu tua dan debu menyambut Raka begitu ia membuka pintu rumah yang sudah tujuh tahun tidak ia masuki. Ia berdiri sebentar di ambang pintu, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan cahaya temaram yang menembus gorden usang. Rumah ini terasa lebih kecil dari yang ia ingat. Atau mungkin ia yang sudah terlalu banyak berubah.
Tiga hari yang lalu, ayahnya dimakamkan. Upacara sederhana, hanya dihadiri beberapa tetangga lama dan seorang pria dari kantor kelurahan yang datang membawa map berisi surat-surat. Raka tidak menangis saat itu. Ia hanya berdiri di tepi liang lahat, menatap peti kayu yang perlahan turun, dan merasa... kosong. Bukan kesedihan yang tajam, melainkan kehampaan yang aneh, seperti ruang yang selama ini ia siapkan untuk kemarahan tiba-tiba tidak tahu harus diisi apa.
Ia dan ayahnya tidak pernah benar-benar dekat. Sejak ibunya meninggal saat Raka masih SMA, ayahnya sering pergi tanpa penjelasan, kadang dua hari, kadang seminggu penuh. Ia pulang membawa kelelahan di wajahnya dan tidak pernah bercerita ke mana ia pergi. Raka berhenti bertanya sejak lama. Ia membangun hidupnya sendiri: kuliah arsitektur, kerja di kota lain, jarang menelepon. Sesekali ia merasa bersalah, tapi rasa bersalah itu selalu kalah oleh jarak yang sudah terlanjur mereka pelihara bertahun-tahun.
Sekarang, ayahnya sudah tiada, dan Raka berdiri di ruang tamu yang penuh perabot lama, kursi rotan yang mulai retak, jam dinding yang berhenti di pukul tiga entah sejak kapan, foto keluarga yang warnanya sudah menguning di dinding. Ia ditugaskan oleh dirinya sendiri untuk satu hal: membereskan rumah ini secepat mungkin, menjualnya, dan kembali ke kehidupannya yang jauh lebih rapi dan bisa ia kendalikan.
Agen properti sudah dihubungi. Seorang wanita bernama Ibu Tuti, ramah namun tergesa, sudah dua kali mengirim pesan menanyakan kapan rumah bisa difoto untuk listing. "Pasar sedang bagus," katanya lewat telepon kemarin. "Rumah begini, lokasi begini, cepat laku, Mas. Sayang kalau ditunda-tunda."
Raka mulai dari kamar ayahnya, ruangan yang paling ingin ia selesaikan lebih dulu. Lemari kayu jati tua berderit saat dibuka, mengeluarkan aroma kapur barus yang menempel di baju-baju yang sudah lama tidak lagi dipakai. Ia menyortir dengan cepat dan tanpa banyak berpikir, yang bisa disumbangkan, yang harus dibuang. Ia tidak ingin berlama-lama di ruangan ini lebih dari yang perlu. Setiap benda di sini terasa seperti pertanyaan yang tidak sempat ia ajukan semasa ayahnya masih hidup.
Di bagian bawah lemari, tersembunyi di balik tumpukan sarung dan kain batik yang sudah jarang dipakai, tangannya menyentuh sesuatu yang keras. Ia menariknya keluar, sebuah peti kayu kecil, tidak lebih besar dari kotak sepatu, dengan gembok tua yang sudah berkarat.
Raka mengerutkan kening. Ia menggeser lebih banyak kain, dan menemukan bukan satu, tapi enam peti serupa, berjajar rapi di dasar lemari seperti barisan yang lama menunggu untuk dipanggil satu per satu.
Setiap peti memiliki nama berbeda, ditulis dengan tinta yang mulai memudar di atas kayu: