Kantor notaris itu berada di lantai dua sebuah ruko tua di pusat kota, dengan AC yang berdengung pelan dan rak-rak berisi map cokelat yang tersusun rapi menyerupai barisan buku tanpa judul. Raka duduk di kursi kayu yang agak keras, menghadap meja Pak Hasan, notaris yang sudah menangani urusan keluarga mereka sejak Raka masih kecil, meskipun ia baru benar-benar mengenal wajahnya minggu ini.
"Saya tahu ini berat, Mas Raka," kata Pak Hasan sambil membuka map tebal di depannya. "Ayah Anda menitipkan surat ini enam bulan sebelum beliau meninggal. Beliau memintanya dibacakan setelah pemakaman, bukan sebelumnya."
Raka mengangguk pelan, meski dalam hatinya ia bertanya-tanya kenapa harus menunggu selama itu.
Pak Hasan mengeluarkan selembar kertas resmi, dengan meterai dan tanda tangan yang sudah ia kenal betul, tanda tangan ayahnya, tegas namun terburu-buru, seolah selalu ditulis di tengah kesibukan yang tidak pernah ia jelaskan kepada siapa pun di rumah.
"Intinya begini," Pak Hasan mulai membaca, lalu berhenti sejenak, melepas kacamatanya. "Rumah dan seluruh aset almarhum menjadi hak Anda sepenuhnya. Tapi ada satu syarat."
"Syarat apa?"
"Ada enam kotak yang dititipkan di rumah. Anda harus mengantarkannya sendiri, secara langsung, bertemu tatap muka, kepada enam orang yang namanya tertulis di masing-masing kotak. Dalam waktu enam bulan sejak hari ini."
Raka merasa dadanya menyempit. "Kalau saya nggak melakukannya?"
Pak Hasan menghela napas, seperti sudah menduga pertanyaan itu cepat atau lambat akan muncul. "Kalau dalam enam bulan kotak-kotak itu tidak sampai ke tangan yang tepat... rumah dan seluruh aset otomatis dihibahkan. Bukan ke Anda."
"Ke siapa?"