Malam itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Raka duduk bersila di lantai kamar ayahnya, dikelilingi enam peti kayu yang kini tersusun dalam satu baris rapi di hadapannya, masing-masing menunggu giliran seperti murid yang dipanggil satu per satu.
Ia sudah memutuskan akan berangkat lusa. Banyuwangi jadi tujuan pertama, bukan karena alasan istimewa, hanya karena nama kotanya paling jauh dari sini, dan Raka merasa kalau ia tidak memulai dari yang paling berat, ia mungkin tidak akan pernah benar-benar memulai.
Kotak dengan nama Suhardi ada di depannya.
Gembok tuanya ternyata tidak terkunci rapat, hanya tersangkut, seperti sengaja dibuat mudah dibuka oleh siapa pun yang cukup sabar untuk mencobanya. Raka menariknya pelan, dan penutup kayu itu terangkat dengan suara berderit kecil, melepaskan aroma kertas lama dan sesuatu yang samar-samar seperti garam laut, meski itu mungkin hanya khayalannya saja.
Di dalamnya, tidak banyak. Tiga benda saja.
Yang pertama, sebelah sandal jepit anak-anak, ukurannya kecil, warnanya sudah pudar menjadi abu-abu meski aslinya mungkin biru atau hijau. Hanya sebelah. Tidak ada pasangannya di mana pun dalam kotak itu.
Raka memegangnya sebentar, mencoba membayangkan kaki kecil seperti apa yang pernah memakainya, dan ke mana perginya sandal yang satu lagi.
Yang kedua, sebuah foto hitam putih, sudah menguning di pinggirnya. Foto anak-anak sekolah dasar, berbaris di depan bangunan yang tidak Raka kenali, mengenakan seragam merah putih yang sudah pudar warnanya. Ia membalik foto itu, berharap ada tulisan di baliknya.
Ada. Hanya empat kata, ditulis dengan tangan yang berbeda dari tulisan ayahnya.