Perjalanan ke Banyuwangi memakan waktu hampir sepuluh jam, kereta malam dilanjutkan angkutan umum yang berhenti di setiap kelokan menuju sebuah desa nelayan bernama Muncar. Sepanjang jalan, Raka tidak banyak bicara dengan siapa pun. Ia hanya menatap pemandangan yang berganti dari gedung-gedung ke sawah, lalu perbukitan, lalu akhirnya hamparan laut yang berkilau tajam di bawah matahari siang.
Ia terus memikirkan pertanyaan yang sama sejak membuka kotak pertama: siapa sebenarnya Suhardi, dan apa yang pernah terjadi antara pria itu dan ayahnya, bertahun-tahun sebelum Raka cukup besar untuk mengingat apa pun.
Alamat yang tertulis di kertas hanya menyebut nama dusun dan patokan sederhana: "Rumah kayu biru, seratus meter dari tempat pelelangan ikan." Butuh waktu bertanya ke tiga orang berbeda sebelum Raka akhirnya menemukan rumah itu, bangunan sederhana beratap seng, dengan cat biru yang sudah mengelupas di banyak bagian, dan jaring-jaring ikan yang tergantung mengering di halaman depan.
Seorang lelaki tua sedang duduk di teras, memperbaiki jaring dengan gerakan tangan yang masih terlihat cekatan meski usianya jelas sudah lewat tujuh puluh. Kulitnya gelap terbakar matahari bertahun-tahun, dan matanya menyipit saat melihat orang asing berdiri di depan pagar kayu rumahnya.
"Cari siapa, Mas?" tanyanya, tanpa berhenti dari pekerjaannya.
"Saya cari Pak Suhardi."
Tangan lelaki itu berhenti bergerak. Ia menatap Raka lebih lama, seperti sedang mencocokkan wajah di depannya dengan sesuatu di ingatannya. "Saya Suhardi. Ada perlu apa?"
Raka mendekat, merasakan detak jantungnya sendiri lebih kencang dari yang ia duga. "Nama saya Raka. Saya... anak dari Pak Darma."
Nama itu jatuh di antara mereka seperti batu ke dalam air tenang. Suhardi meletakkan jaring yang sedang ia perbaiki, perlahan, seolah tangannya butuh waktu untuk memproses apa yang baru saja ia dengar.
"Darma," ulangnya pelan, lebih seperti menggumam pada dirinya sendiri. "Sudah berapa lama saya nggak dengar nama itu."