Raka sampai kembali di rumah menjelang tengah malam, tubuhnya lelah oleh perjalanan sepuluh jam yang terasa lebih panjang saat pulang dibanding saat berangkat. Ia meletakkan tas ranselnya di ruang tamu, menyalakan lampu yang berkedip sebentar sebelum akhirnya menyala stabil, dan berdiri diam di tengah ruangan yang sama seperti seminggu lalu.
Tapi rumah ini terasa berbeda sekarang.
Bukan rumahnya yang berubah, kursi rotan itu masih retak di tempat yang sama, jam dinding masih berhenti di pukul tiga, foto-foto di dinding masih berwarna kuning pudar. Yang berubah adalah cara Raka memandangnya. Dulu ia melihat rumah ini sebagai kumpulan barang yang harus disortir, ruangan yang harus dikosongkan, aset yang harus dijual secepat mungkin. Sekarang, setiap sudutnya terasa seperti menyimpan pertanyaan yang belum sempat ia ajukan.
Ia duduk di kursi yang biasa ditempati ayahnya, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sejak kecil, kursi itu semacam wilayah terlarang tanpa aturan tertulis, tempat khusus kepala keluarga yang bahkan setelah ayahnya jarang di rumah, tetap tidak pernah diduduki siapa pun.
Dari kursi itu, sudut pandangnya berbeda. Ia bisa melihat rak buku kecil di sudut ruangan yang selama ini luput dari perhatiannya, rak yang lebih dipenuhi map dan buku catatan dibanding buku bacaan. Raka bangkit, mendekat, menarik salah satu buku catatan yang sampulnya sudah using.
Halaman-halamannya penuh tulisan tangan ayahnya, tapi bukan buku harian seperti yang mungkin dibayangkan orang. Isinya lebih menyerupai catatan pengeluaran, tanggal, angka, dan inisial singkat. 12/03 – SH – 500rb. 20/03 – ML – tiket + biaya RS. 02/04 – YS – uang jaminan.
Raka membalik halaman demi halaman, menemukan pola yang sama berulang-ulang selama bertahun-tahun, inisial berbeda, jumlah berbeda, tapi format yang konsisten, seolah ayahnya mencatat sesuatu yang rutin ia lakukan, bukan sekali-sekali.