Butuh tiga hari sebelum Raka berani membuka kotak kedua.
Bukan karena ia belum siap secara jadwal, suratnya untuk memperpanjang cuti sudah disetujui atasannya, meski dengan nada yang jelas menahan kekesalan lewat email balasan yang terlalu formal untuk terdengar tulus. Bukan pula karena ia sibuk. Ia hanya belum siap secara lain, sesuatu yang lebih sulit dijelaskan, semacam firasat bahwa kotak kedua ini akan membawanya ke tempat yang lebih gelap dari yang pertama.
Nama di kotak itu, Marlina, tidak memberi petunjuk apa-apa. Tidak seperti Suhardi yang setidaknya terdengar seperti nama seorang lelaki tua di kampung nelayan. Marlina bisa siapa saja, di mana saja.
Malam ketiga, Raka akhirnya duduk di lantai kamar ayahnya lagi, kotak kedua di hadapannya. Gemboknya lebih keras dibuka dibanding yang pertama, seolah kotak ini memang dirancang untuk lebih sulit disentuh.
Isinya membuat dadanya langsung terasa sesak begitu penutup kayu terangkat.
Yang pertama, sebuah jepit rambut anak perempuan, bentuknya kupu-kupu kecil, warnanya sudah pudar jadi cokelat pucat, dengan satu sayapnya sedikit meleleh di bagian ujung, seperti pernah terkena panas yang cukup ekstrem untuk melunakkan plastiknya, tapi tidak cukup untuk menghancurkannya sepenuhnya.
Yang kedua, secarik foto yang sebagian pinggirnya menghitam, seperti sempat tersentuh api sebelum sempat diselamatkan. Foto itu menunjukkan seorang wanita muda menggendong bayi di depan sebuah toko, keduanya tersenyum ke arah kamera, tidak menyadari apa pun tentang apa yang akan terjadi pada hari-hari setelah foto itu diambil.