Pagi berikutnya, Raka duduk lagi dengan buku catatan ayahnya terbuka di meja makan, kali ini ditemani laptop dan secangkir kopi yang lama-lama menjadi dingin karena terlupakan. Ia mulai menyusun daftar, setiap inisial, setiap tanggal, setiap jumlah uang yang tercatat, memindahkannya satu per satu ke sebuah spreadsheet sederhana, seperti sedang mengerjakan proyek arsitektur yang butuh presisi, bukan sedang membongkar hidup ayahnya sendiri.
Polanya mulai terlihat begitu ia mengurutkan berdasarkan tanggal. Entri-entri itu tidak tersebar acak sepanjang tahun. Mereka mengelompok, beberapa minggu ramai dengan banyak catatan sekaligus, diikuti bulan-bulan sepi tanpa satu pun entri baru.
Raka membuka tab baru di laptopnya, mengetik rentang tanggal dari salah satu kelompok entri yang paling padat, ditambah kata kunci sederhana: bencana, kecelakaan, kerusuhan.
Hasil pencarian membuatnya terdiam. Rentang tanggal itu cocok dengan sebuah gempa besar yang pernah meluluhlantakkan satu wilayah di Jawa Tengah, bertahun-tahun lalu. Ia mengecek kelompok entri lain, cocok dengan banjir bandang di daerah lain. Kelompok berikutnya, cocok dengan kecelakaan kapal feri yang sempat jadi berita nasional.
Ayahnya tidak hanya mendatangi enam keluarga yang tertulis di enam kotak kayu itu. Ia mendatangi puluhan, mungkin ratusan keluarga lain, setiap kali sesuatu yang buruk terjadi di suatu tempat, diam-diam pergi, membantu seadanya, lalu pulang tanpa pernah menceritakan apa pun kepada anaknya sendiri.
Raka menutup laptopnya perlahan, merasa perlu udara segar sebelum kepalanya benar-benar penuh oleh terlalu banyak kepingan sekaligus.
Ia memutuskan mengunjungi kantor Yayasan Rumah Singgah Nusantara, alamat yang tertera di surat notaris minggu lalu, ternyata tidak jauh dari kota tempat ia tinggal, sekitar dua jam perjalanan darat, sesuatu yang mengejutkan mengingat ia tidak pernah sekali pun mendengar nama itu selama hidupnya.
Kantornya sederhana, sebuah rumah dua lantai yang diubah fungsinya, dengan papan nama kecil di pagar dan halaman yang ditanami pohon mangga tua. Di dalam, seorang perempuan paruh baya menyambutnya, memperkenalkan diri sebagai Bu Retno, koordinator yayasan sejak sepuluh tahun terakhir.
"Anaknya Pak Darma," katanya begitu Raka menyebutkan namanya, seolah nama itu masih membawa bobot tersendiri di ruangan itu. "Kami turut berduka, Mas. Kabar itu sampai ke kami lewat salah satu relawan lama."