Solo menyambut Raka dengan udara siang yang panas dan jalanan yang lebih padat dari yang ia bayangkan. Dengan hanya nama kota sebagai petunjuk, ia menyadari perjalanan ini akan jauh berbeda dari Muncar, di sana ia tinggal berjalan menyusuri satu jalan menuju rumah kayu biru. Di sini, ia bahkan tidak tahu harus mulai dari mana.
Ia memutuskan memulai dari foto yang setengah menghitam itu, bukan dari wajah Marlina, yang terlalu buram untuk bisa dikenali orang lain, melainkan dari toko di belakangnya. Plang tokonya sebagian besar hilang termakan api, hanya menyisakan tiga huruf terakhir yang masih terbaca: ...ROTO.
Raka menghabiskan hari pertamanya berjalan menyusuri kawasan pertokoan lama, menunjukkan foto itu ke siapa pun yang terlihat cukup tua untuk mengingat masa itu, penjual jamu keliling, tukang becak yang mangkal di ujung gang, pemilik toko kelontong yang sudah berjualan di tempat yang sama selama puluhan tahun. Kebanyakan menggeleng, beberapa memilih diam terlalu lama sebelum akhirnya menjawab tidak tahu, dengan cara yang membuat Raka curiga jawaban itu bukan sepenuhnya jujur.
Ia baru mendapat titik terang di hari kedua, saat seorang pemilik warung kopi tua, Pak Broto, yang usianya sudah delapan puluhan namun ingatannya masih tajam, menatap foto itu lama sekali sebelum akhirnya menghela napas panjang.
"Toko Bahagia," katanya pelan, seolah menyebut nama itu saja sudah membutuhkan keberanian tersendiri. "Punya keluarga Tionghoa, jual kain sama pakaian anak-anak. Habis, Mas. Ludes waktu kerusuhan itu."
"Bapak kenal pemiliknya?"
Pak Broto mengangguk pelan. "Namanya Marlina. Suaminya orang sini, jadi dia nggak ikut keluarganya yang lain pindah ke luar negeri sesudah kejadian itu. Tapi dia juga nggak lagi tinggal di sekitar sini. Kalau nggak salah, dia pindah ke daerah pinggiran, deket kuburan Tionghoa, sesudah suaminya juga meninggal beberapa tahun kemudian."