RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #10

Bab 10 - Yang Tak Pernah Sendirian

Rumah Marlina kecil dan sederhana, berdiri di ujung gang sempit tak jauh dari pemakaman Tionghoa yang temboknya sudah ditumbuhi lumut. Mbak Wina, staf sekretariat yang menemani Raka, mengetuk pintu dengan hati-hati, memanggil nama Marlina dengan nada yang lembut, seperti sudah terbiasa berhati-hati setiap kali datang ke rumah ini.


Pintu terbuka perlahan. Seorang perempuan tua berdiri di baliknya, tubuhnya kecil dan agak bungkuk, matanya menatap Raka dengan kewaspadaan yang jelas terlihat sebelum akhirnya beralih ke Mbak Wina, mencari semacam jaminan bahwa tamu ini aman untuk diterima.


"Bu Marlina, ini Mas Raka. Ada yang mau disampaikan, titipan dari almarhum ayahnya," kata Mbak Wina pelan.


Marlina mempersilakan mereka masuk tanpa banyak bicara, ruang tamunya sempit namun rapi, dengan sebuah altar kecil di sudut ruangan, dupa yang masih menyala tipis, dan sebuah foto anak perempuan berusia sekitar delapan tahun terpajang di tengahnya, dikelilingi bunga plastik yang warnanya sudah pudar.


Raka duduk di kursi yang ditawarkan, meletakkan kotak kayu itu di meja dengan hati-hati. "Bu, ayah saya nitip ini sebelum beliau meninggal. Katanya harus saya antar sendiri, langsung ke tangan Ibu."


Marlina menatap kotak itu lama sekali sebelum akhirnya menyentuhnya, membuka penutupnya dengan tangan yang gemetar. Saat matanya jatuh pada jepit rambut kupu-kupu itu, ia terdiam total, tubuhnya membeku seperti waktu berhenti bergerak di ruangan itu.


"Ini punya Anita," bisiknya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia mengangkat jepit itu dengan kedua tangan, menggenggamnya seperti sedang menggenggam sesuatu yang bisa menghilang kapan saja. "Saya kira udah ikut hilang bareng semuanya. Toko, rumah, semua barang kami."


Ia menangis tanpa suara, air mata mengalir diam-diam di wajahnya yang keriput, dan untuk sesaat tidak ada yang berani mengucapkan apa pun, membiarkan ruangan itu diisi hanya oleh isak yang tertahan dan asap dupa yang perlahan menipis.


Lihat selengkapnya