Alamat untuk kotak ketiga jauh lebih rinci dibanding milik Marlina, sebuah kecamatan di pinggiran Cirebon, lengkap dengan nama jalan dan RT/RW. Tapi begitu Raka sampai di sana, ia menyadari kertas itu ketinggalan zaman. Rumah di alamat tersebut sudah berganti pemilik tiga kali sejak nama Yusuf terakhir tercatat di sana, menurut pengakuan penghuni sekarang, seorang ibu muda yang menatapnya curiga dari balik pintu setengah terbuka.
"Yusuf yang mana, Mas? Yang mantan napi itu?"
Kata itu keluar begitu ringan dari mulutnya, seperti sudah menjadi identitas resmi yang melekat pada nama tersebut di lingkungan itu, terlepas dari apa pun yang sebenarnya terjadi bertahun-tahun lalu.
"Iya, Bu. Bapak tahu di mana sekarang?"
Ibu itu menggeleng cepat, buru-buru menutup pintu sedikit lebih rapat, seolah nama itu sendiri membawa semacam aib yang tidak ingin ia dekati terlalu lama. "Udah lama pindah, Mas. Katanya ganti nama juga. Coba tanya ke Pak RT, mungkin masih ada yang inget."
Pola yang sama terulang di beberapa rumah berikutnya, orang-orang mengenali nama Yusuf, tapi selalu dengan nada yang sama, campuran antara ingatan samar dan penghakiman yang sudah mengeras jadi kebiasaan. Tidak ada yang benar-benar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, hanya potongan-potongan: dia dulu kerja bangunan, ada kejadian, dia dipenjara, keluarganya cerai, dia nggak pernah balik lagi ke kampung ini sesudah bebas.