RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #12

Bab 12 - Yang Disalahkan

Pintu petak nomor tujuh terbuat dari triplek tipis, catnya sudah mengelupas di banyak bagian. Raka mengetuk pelan, menunggu, lalu mengetuk lagi ketika tidak ada jawaban.


Akhirnya pintu terbuka sedikit, hanya cukup untuk menampakkan separuh wajah seorang lelaki paruh baya, matanya menyipit curiga menatap orang asing di depannya.


"Cari siapa?"


"Pak Yusuf?"


Ekspresi lelaki itu langsung berubah, wajahnya mengeras seperti dinding yang baru saja ditutup rapat. "Salah alamat, Mas. Nggak ada Yusuf di sini."


Pintu itu hampir tertutup sepenuhnya sebelum Raka cepat-cepat menyela. "Pak, saya bukan wartawan, bukan orang yang mau ungkit-ungkit masa lalu Bapak buat hal buruk. Saya cuma bawa titipan dari almarhum ayah saya. Namanya Pak Darma."


Nama itu membuat pintu berhenti bergerak. Lelaki di baliknya terdiam cukup lama, matanya menatap Raka dengan cara yang berbeda sekarang, bukan lagi curiga, melainkan sesuatu yang lebih rumit, campuran antara terkejut dan waspada.


"Darma," gumamnya pelan. "Insinyur itu?"


"Ayah saya arsitek, Pak. Dulu mungkin terlibat di proyek yang sama sama Bapak."


Yusuf menatap Raka lebih lama, lalu akhirnya membuka pintu sepenuhnya, meski tidak mempersilakan masuk. Ia berdiri di ambang pintu, lengan bersedekap, seperti masih menjaga jarak meski rasa penasaran mulai mengalahkan kewaspadaannya.


"Ngapain dia kirim orang ke sini? Delapan tahun saya di penjara, nggak sekali pun dia dateng."


Lihat selengkapnya