Bu Endang membuka kotak itu dengan gerakan pelan, seperti sudah terbiasa membuka banyak hal berharga sepanjang hidupnya sebagai guru, rapor, buku tugas, hasil ujian anak-anak yang selalu ia perlakukan dengan hormat, apa pun nilainya.
Benda pertama yang ia angkat adalah sebuah buku tugas lama, sampulnya sudah lusuh, namanya tertulis di pojok dengan tulisan tangan anak-anak yang belum rapi: Darma, Kelas 5B.
"Ini..." Bu Endang membuka halaman demi halaman, matanya mulai berkaca-kaca sebelum sempat menemukan apa yang dicarinya. "Ini buku tugas mengarang. Saya selalu simpan salinan tugas favorit murid-murid saya, tapi nggak nyangka ayah Nak Raka yang justru nyimpen aslinya."
Ia berhenti di satu halaman, membaca dalam diam sejenak sebelum membacakannya pelan-pelan untuk Raka, suaranya bergetar di beberapa bagian.
"Cita-citaku ingin jadi orang yang bikin rumah. Bukan rumah biasa. Rumah yang kuat, yang nggak gampang roboh, yang bisa bikin orang di dalamnya selalu ngerasa aman. Karena rumahku sendiri sering bocor kalau hujan, dan Ibu Guru Endang bilang, orang yang pernah kedinginan biasanya paling ngerti cara bikin orang lain hangat."
Raka merasakan sesuatu yang menusuk di dadanya, membaca kalimat sederhana yang ditulis tangan kecil ayahnya puluhan tahun lalu, jauh sebelum ia menjadi arsitek, jauh sebelum enam kotak kayu itu ada, jauh sebelum Raka bahkan lahir ke dunia.
"Ayah saya... miskin waktu kecil, Bu?"
Bu Endang mengangguk pelan. "Keluarganya susah, Nak. Bapaknya kerja serabutan, kadang ada kadang nggak. Darma kecil itu paling sering nunggak SPP, sampai suatu hari mau dikeluarin sekolah. Saya yang nalangin waktu itu, diam-diam, biar dia nggak malu sama teman-temannya."
Ia mengangkat benda kedua, sebuah foto hitam putih, kelas penuh anak-anak berseragam, dengan satu anak laki-laki kecil di barisan belakang, seragamnya terlihat lebih lusuh dari yang lain, tapi senyumnya paling lebar di antara semuanya.