Yogyakarta menyambut Raka dengan gerimis tipis, langit abu-abu yang menggantung rendah di atas atap-atap rumah joglo tua di kawasan Kotagede. Alamat yang tertulis untuk kotak kelima sedikit berbeda dari yang lain, ada dua nama, dua alamat, terpisah cukup jauh meski masih di kota yang sama.
Raka memutuskan mendatangi Pak Wisnu lebih dulu, seorang lelaki tua yang tinggal sendirian di rumah joglo peninggalan keluarga, halamannya penuh tanaman anggrek yang dirawat dengan telaten, satu-satunya hal yang menurut tetangga sekitar masih membuat Pak Wisnu bersemangat bangun pagi setiap hari.
"Darma? Ya Allah, sudah puluhan tahun saya nggak dengar kabarnya," kata Pak Wisnu begitu Raka menyebut nama ayahnya, matanya langsung berbinar penuh kerinduan yang jelas terlihat meski usianya sudah lewat tujuh puluh lima. "Dulu tetangga sebelah rumah orang tua saya. Anaknya baik, rajin."
Mereka duduk di teras yang menghadap kebun anggrek, ditemani teh hangat yang mengepul di tengah gerimis. Pak Wisnu bercerita dengan antusias tentang masa muda mereka, tentang persahabatan keluarga yang erat, sebelum akhirnya Raka memberanikan diri bertanya tentang hal yang sebenarnya ingin ia ketahui.
"Pak, saya dengar Bapak dan Bu Ratna sekarang sudah berpisah?"
Wajah Pak Wisnu langsung berubah, semangat yang tadi bersinar di matanya meredup seketika. Ia menghela napas panjang, menatap kebun anggrek dengan pandangan yang jauh menerawang.
"Empat puluh tahun kami menikah, Nak. Cerai lima tahun lalu, sesudah pertengkaran yang sebenarnya sepele, tapi jadi besar karena kami berdua sama-sama keras kepala."
"Boleh saya tahu apa yang terjadi, Pak?"