Raka kembali ke penginapan di Yogyakarta malam itu dengan pikiran yang masih penuh oleh apa yang baru saja ia saksikan di depan rumah adik Bu Ratna, dua orang tua yang berdiri canggung di ambang pintu, mencoba merangkai kembali empat puluh tahun yang nyaris hancur karena satu surat yang terlambat.
Ia mengeluarkan kotak terakhir dari dalam tasnya, satu-satunya yang belum tersentuh sama sekali sejak ia mulai perjalanan ini. Namanya tertulis paling samar dibanding lima kotak lainnya, hurufnya lebih kecil, seperti ditulis terburu-buru atau dengan tangan yang ragu.
Rangga.
Raka membuka gemboknya, penutup kayu terangkat dengan suara berderit yang sama seperti kotak-kotak sebelumnya.
Tapi di dalamnya, tidak ada apa-apa.
Ia mengangkat kotak itu, mengguncangkannya pelan, memeriksa setiap sudutnya dengan jari-jarinya, berharap menemukan sesuatu yang terselip atau tersembunyi. Tapi hasilnya tetap sama, hanya kayu kosong, tidak ada sandal, tidak ada foto, tidak ada surat.