RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #18

Bab 18 - Jejak yang Sengaja Dihapus

Bandung menyambut Raka dengan udara yang lebih sejuk dari kota-kota sebelumnya, tapi pikirannya terlalu penuh untuk benar-benar menikmatinya. Ia hanya punya satu nama dan satu kota sebagai petunjuk, tidak ada alamat jalan, tidak ada nomor telepon, tidak ada apa pun yang biasanya memudahkan pencarian seperti pada lima kotak sebelumnya.


Ia memulai dari satu-satunya sumber yang mungkin tahu sesuatu: Yayasan Rumah Singgah Nusantara memiliki cabang kecil di Bandung, menurut informasi yang sempat diberikan Bu Retno sebelum Raka berangkat dari kota asalnya. Kantornya lebih kecil dari kantor pusat, hanya dua ruangan sederhana di lantai satu sebuah rumah kos yang dialihfungsikan.


Seorang relawan muda bernama Fajar menyambutnya, mendengarkan penjelasan Raka dengan seksama sebelum akhirnya menggeleng pelan.


"Nama Rangga emang familier, Mas, tapi saya kurang begitu kenal orangnya secara langsung. Kalau nggak salah, dia relawan lepas yang suka bantu-bantu waktu ada bencana, tapi jarang nongol di kantor. Orangnya emang tertutup banget, jarang mau difoto, jarang mau cerita soal dirinya sendiri."


"Ada kontaknya, Mas?"


Fajar memeriksa data di komputer lama yang berderit setiap kali digerakkan, lalu menggeleng lagi. "Nomornya udah nggak aktif, Mas. Terakhir tercatat dia bantu waktu ada gempa di daerah selatan, dua tahun lalu. Sesudah itu, saya nggak lihat namanya muncul lagi di daftar relawan."


Raka merasakan harapannya perlahan menyusut, tapi ia tidak menyerah begitu saja. Dengan bantuan Fajar, ia menemukan alamat kos terakhir yang pernah tercatat sebagai tempat tinggal Rangga, sebuah rumah kos sederhana di kawasan Dago yang lebih ramai oleh mahasiswa dibanding relawan sosial.


Ibu kos yang sudah cukup tua, namun ingatannya masih cukup tajam, mengingat Rangga dengan jelas begitu Raka menyebut nama itu.

Lihat selengkapnya