RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #19

Bab 19 - Benang yang Sama

Raka menghabiskan malam pertamanya kembali di rumah dengan menyusun semua catatan yang sudah ia kumpulkan sepanjang perjalanan, kertas-kertas kecil berisi tanggal, nama, dan detail cerita dari setiap keluarga yang ia temui, menyusunnya di lantai ruang tamu, membentuk semacam garis waktu yang memenuhi hampir separuh ruangan.


Ia mulai dari yang paling ia ingat jelas: kecelakaan Bayu di Muncar, dua puluh delapan tahun lalu. Ia menuliskannya di secarik kertas, meletakkannya di ujung paling kiri garis waktu yang mulai terbentuk di lantai.


Lalu ia teringat sesuatu, kalimat Marlina saat bercerita tentang Anita, tentang dua puluh delapan tahun menunggu jawaban yang tidak pernah datang.


Raka duduk tegak, jantungnya berdebar lebih cepat. Ia meraih kembali catatan tentang Marlina, memastikan ingatannya benar. Dua puluh delapan tahun. Tahun yang sama persis dengan kecelakaan di Muncar.


Ia menuliskan kedua tanggal itu berdampingan, menatapnya lama sekali, mencoba meyakinkan diri bahwa ini mungkin hanya kebetulan. Tapi semakin lama ia menatap, semakin sulit rasanya mempercayai kebetulan itu begitu saja.


Dua tragedi, di dua tempat yang jauh berbeda, satu di lautan tenang sebuah desa nelayan, satu lagi di tengah kekacauan sebuah kota, terjadi di tahun yang persis sama. Tahun yang sama yang, entah bagaimana, membentuk dua luka berbeda yang kelak akan sama-sama disentuh oleh ayahnya, bertahun-tahun kemudian.


Lihat selengkapnya