RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #21

Bab 21 - Relawan yang Tidak Pernah Absen

Raka melanjutkan membaca buku harian itu selama berjam-jam, melewati lembar demi lembar yang mencatat bertahun-tahun kehidupan ayahnya yang selama ini tersembunyi rapat dari pengetahuannya.


Polanya semakin jelas seiring ia membaca. Setiap kali ada bencana besar di negeri ini, gempa, banjir, kecelakaan massal, ayahnya selalu ada di sana dalam beberapa hari setelah kejadian, bergabung dengan tim relawan, mencatat nama-nama keluarga yang kehilangan, menuliskan detail-detail kecil yang kelak menjadi dasar bagi kotak-kotak kayu yang ia siapkan bertahun-tahun kemudian.


Gempa hari ini menghancurkan tiga kecamatan. Aku berangkat besok pagi. Wulan bilang, hati-hati, tapi tidak pernah melarang. Raka baru masuk SD minggu ini, aku sudah janji akan pulang sebelum hari pertama sekolahnya. Semoga bisa kutepati.


Raka membaca catatan itu dengan perasaan campur aduk, teringat samar-samar hari pertama sekolahnya sendiri, dan mencoba mengingat apakah ayahnya sempat hadir hari itu atau tidak. Ingatannya terlalu kabur untuk memastikan.


Ia melompat beberapa tahun ke depan, menemukan entri yang tanggalnya jatuh tidak lama setelah ibunya meninggal, tulisan tangan ayahnya di periode itu jauh lebih berantakan, kalimat-kalimatnya pendek dan terputus-putus, seperti ditulis oleh seseorang yang nyaris kehabisan kekuatan untuk merangkai kata.


Wulan sudah tidak ada. Aku tidak tahu bagaimana caranya jadi ayah sendirian. Aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti pergi membantu orang lain, karena itu satu-satunya hal yang masih terasa masuk akal buat aku lakukan sekarang.


Raka makin sering diam kalau aku di rumah. Aku tidak tahu harus ngomong apa ke anak SMA yang baru kehilangan ibunya. Jadi aku memilih pergi lagi, membantu keluarga lain, berharap itu bisa jadi semacam permintaan maaf yang tidak pernah cukup berani kuucapkan langsung ke anakku sendiri.

Lihat selengkapnya