RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #22

Bab 22 - Enam Bagian dari Satu Kesalahan

Raka melompat ke halaman-halaman terakhir buku harian itu, ke entri-entri yang ditulis dalam beberapa bulan terakhir hidup ayahnya, tulisan tangannya sudah jauh lebih lemah, hurufnya kadang tidak lagi rapi seperti dulu, seolah setiap kata ditulis dengan tenaga yang semakin menipis.


Dokter bilang waktuku tidak banyak lagi. Aku sudah menduga sejak beberapa bulan lalu, tapi mendengarnya diucapkan langsung tetap terasa berbeda.


Aku sudah lama berpikir bagaimana caranya menjelaskan semua ini ke Raka, kalau suatu saat aku tidak ada lagi untuk menjelaskannya sendiri. Aku tidak bisa ceritakan semua orang yang pernah kubantu sepanjang hidupku, terlalu banyak, dan sebagian besar dari mereka tidak akan mengerti kenapa harus Raka yang datang, bukan aku.


Jadi aku memilih enam. Enam yang menurutku paling penting untuk dipahami Raka, kalau dia mau benar-benar mengerti siapa ayahnya.


Raka membaca lebih lanjut, jantungnya berdebar semakin cepat.


Suhardi, karena dari sanalah semuanya bermula. Karena kalau Raka mengerti apa yang terjadi di Muncar, dia akan mengerti kenapa sisa hidupku terasa seperti utang yang tidak pernah lunas.


Marlina, karena dia membuktikan bahwa satu tragedi jarang datang sendirian, dan bahwa rasa bersalahku bukan hanya soal satu hari di laut, tapi soal terus-menerus merasa tidak cukup, di mana pun aku berada.

Lihat selengkapnya