RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #23

Bab 23 - Surat yang Ditulis Ibu

Pertanyaan itu terus mengganggu Raka sepanjang malam, sampai akhirnya ia memutuskan untuk mencari sesuatu yang selama ini juga ia hindari tanpa sadar, barang-barang peninggalan ibunya, yang sejak kematiannya disimpan begitu saja di sebuah lemari kecil di kamar Raka sendiri, tidak pernah benar-benar ia buka kembali sejak masa SMA.


Ia menemukan kotak jahitan ibunya di bagian paling bawah lemari, kotak kayu kecil berisi jarum, benang, dan kancing-kancing lepas yang sudah tidak terpakai. Di bawah tumpukan itu, terselip sebuah amplop tua, namanya sendiri tertulis di depannya dengan tulisan tangan yang langsung ia kenali, tulisan ibunya, lebih bulat dan rapi dibanding tulisan ayahnya yang cenderung tergesa.


Untuk Raka, kalau suatu hari kamu sudah cukup besar untuk mengerti.


Tangan Raka gemetar membuka amplop itu. Surat di dalamnya sudah agak menguning, tapi tulisannya masih jelas terbaca.


Nak, kalau kamu membaca ini, mungkin karena ibu sudah tidak ada, atau mungkin karena ayahmu akhirnya merasa kamu sudah siap. Ibu menulis ini bertahun-tahun sebelum surat ini sampai ke tanganmu, di masa ketika dokter bilang jantung ibu punya kelainan yang bisa jadi berbahaya kapan saja. Ibu tidak pernah cerita ke kamu atau ayahmu soal seberapa khawatir ibu sebenarnya, karena ibu tidak mau kalian berdua hidup dalam ketakutan yang belum tentu jadi kenyataan.


Raka merasakan dadanya sesak. Ia tidak pernah tahu ibunya sempat hidup dengan bayangan seperti itu, bertahun-tahun sebelum akhirnya benar-benar pergi karena sebab yang berbeda sama sekali, kecelakaan mendadak yang tidak ada hubungannya dengan kondisi itu, sesuatu yang selalu terasa terlalu tiba-tiba dan tidak adil bagi Raka kecil saat itu.


Lihat selengkapnya