RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #24

Bab 24 - Kebohongan yang Menyelamatkan

Pagi berikutnya, untuk pertama kalinya sejak pemakaman, Raka pergi ke makam ayahnya sendirian, tanpa alasan administratif, tanpa urusan warisan yang perlu diselesaikan. Ia hanya ingin duduk di sana, di antara nisan yang masih terlihat baru, ditemani rumput yang belum sepenuhnya tumbuh menutupi tanah merah di bawahnya.


Ia membawa buku harian itu, meletakkannya di pangkuannya, menatap nisan bertuliskan nama ayahnya seolah sedang menunggu jawaban yang tidak akan pernah datang secara langsung.


"Kenapa nggak bilang aja, Yah?" gumamnya pelan, suaranya nyaris tertelan angin pagi. "Kenapa harus lewat kotak-kotak ini? Kenapa nggak duduk aja sama saya, cerita semuanya, minta maaf langsung?"


Tidak ada jawaban, tentu saja. Hanya suara burung dan gemerisik daun di sekitar area pemakaman.


Raka menghitung dalam kepalanya, satu per satu, kebohongan-kebohongan yang mulai terungkap sepanjang perjalanannya. Ayahnya berbohong pada Yusuf, membiarkan orang lain dipenjara demi kesalahannya sendiri, bertahun-tahun sebelum akhirnya mengaku lewat sepucuk surat yang datang terlambat. Ayahnya berbohong pada Wisnu, membiarkan sahabatnya sendiri hidup lima tahun dengan kesalahpahaman yang sebenarnya bisa diluruskan lebih cepat. Ayahnya berbohong pada Suhardi, menyimpan rahasia keberadaan Rangga selama bertahun-tahun meski tahu betapa besar kerinduan lelaki tua itu. Dan ayahnya berbohong padanya sendiri, bertahun-tahun, dengan alasan "urusan kerja" yang sebenarnya menyembunyikan dunia lain yang jauh lebih rumit dan lebih berat dari yang bisa dibayangkan seorang anak.


Lihat selengkapnya