RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #25

Bab 25 - Alas Ganda

Sekembalinya dari pemakaman, Raka duduk kembali di loteng, membuka buku harian itu sekali lagi, kali ini membaca dengan cara yang berbedabukan lagi mencari jawaban besar tentang siapa ayahnya, melainkan mencari detail-detail kecil yang mungkin terlewat karena ia terlalu larut dalam emosi saat membaca pertama kali.


Ia menemukan sebuah entri pendek, terselip di antara catatan-catatan panjang lainnya, tanggalnya hanya beberapa minggu sebelum ayahnya meninggal.


Aku membuat kotak keenam sendiri, malam ini, di garasi. Tidak seperti lima kotak lain yang kupesan dari tukang kayu langganan. Kotak ini harus kubuat dengan tanganku sendiri, karena isinya terlalu penting untuk dipercayakan pada orang lain, bahkan untuk sekadar mengukir namanya.


Aku sengaja membuat alas gandanya rumit, supaya Raka tidak akan menemukannya begitu saja di awal. Aku ingin dia menyelesaikan perjalanannya dulumemahami Suhardi, Marlina, Yusuf, Bu Endang, Wisnu dan Ratnasebelum ia sampai ke bagian ini. Kalau ia membukanya terlalu cepat, ia mungkin tidak akan mengerti maknanya.


Caranya begini: alas kotak bisa digeser kalau kau menekan sudut kiri belakang, tepat di titik simpul kayunya, sambil mendorong alasnya ke arah kanan. Aku belajar triknya dari tukang kayu tua di kampung, dulu waktu kecil, saat aku sering main-main di bengkelnya karena rumah kami terlalu ramai dan berisik untuk anak yang butuh tempat sendirian.


Raka membaca instruksi itu berulang kali, memastikan ia memahami setiap detailnya sebelum bangkit, mengambil kotak keenam yang sejak Yogyakarta selalu ia bawa dalam tasnya, meletakkannya di lantai loteng dengan hati-hati.


Lihat selengkapnya