RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #26

Bab 26 - Kunci Rumah, Surat untuk Raka

Raka membuka amplop tebal itu dengan tangan yang masih gemetar, mengeluarkan beberapa lembar kertas yang dipenuhi tulisan tangan ayahnya, lebih panjang dari surat mana pun yang pernah ia baca sepanjang perjalanan ini.


Untuk Raka, anakku,


Kalau kau sudah sampai di titik ini, berarti kau sudah menyelesaikan perjalanan yang kurancang untukmu, dan aku ingin kau tahu, aku tidak pernah seyakin ini bahwa kau adalah anak yang tepat untuk membawa semua cerita ini kembali pulang.


Aku tahu, permintaan maafku lewat surat-surat ini mungkin tidak cukup. Aku tahu, bertahun-tahun kepergianku tanpa penjelasan sudah menciptakan luka yang tidak akan hilang hanya karena kau sekarang memahami alasannya. Kau berhak marah, Nak. Kau berhak merasa aku sudah mencuri masa kecilmu demi menebus dosa-dosa yang bahkan bukan sepenuhnya salahku sendiri.


Tapi izinkan aku menjelaskan satu hal terakhir, sebelum kau menutup buku ini dan melanjutkan hidupmu.


Kunci yang kau temukan di kotak ini bukan kunci rumah yang sedang kau tempati sekarang. Ada sebuah rumah kecil di pinggiran Bandung, tidak jauh dari kos lama Rangga, yang kubeli diam-diam sepuluh tahun lalu. Awalnya aku membelinya hanya untuk Rangga, tempat yang bisa ia tinggali kapan saja ia butuh, tanpa perlu membayar sewa, tanpa perlu menjelaskan apa pun ke siapa pun. Aku ingin dia punya satu tempat di dunia ini yang benar-benar bisa ia sebut rumah, sesuatu yang mungkin terasa hilang sejak dia kabur dari Muncar bertahun-tahun lalu.


Alamatnya: Jalan Cempaka Sari nomor 14, di belakang pasar kecil dekat kampus. Kalau Rangga masih sesekali menggunakan rumah itu, dan aku berharap dia masih, kau mungkin akan menemukannya di sana, atau setidaknya menemukan jejak untuk melacaknya lebih jauh.


Aku tidak pernah memaksanya untuk pulang ke Muncar, Nak. Setiap kali aku menyinggung soal ayahnya, dia selalu berubah, menjauh, kadang menghilang selama berminggu-minggu. Aku terlalu takut kehilangan kepercayaannya untuk memaksa lebih jauh. Mungkin itu keputusan yang salah. Mungkin aku seharusnya lebih berani, seperti seharusnya aku lebih berani di banyak momen lain sepanjang hidupku. Tapi aku hanya bisa berharap, kalau kau yang membawa pesan ini kepadanya, bukan aku, bukan orang asing, melainkan anak dari orang yang selama ini diam-diam menjaganya, mungkin dia akan lebih siap mendengarkan.


Lihat selengkapnya