Jalan Cempaka Sari ternyata sebuah gang kecil yang cukup ramai, dipenuhi rumah-rumah kos mahasiswa dan warung makan sederhana, tidak jauh dari kampus yang disebut ibu kos di kunjungan Raka sebelumnya. Nomor 14 berdiri sedikit terpisah dari rumah-rumah lain, halamannya lebih luas, dengan pohon rambutan besar yang meneduhi hampir separuh teras.
Raka berdiri di depan pagar cukup lama sebelum akhirnya memberanikan diri masuk, kunci di tangannya terasa lebih berat dari yang sebenarnya. Tapi sebelum ia sempat mencoba membuka gembok pagar, pintu rumah itu terbuka dari dalam.
Seorang lelaki berusia sekitar empat puluhan berdiri di ambang pintu, tubuhnya kekar hasil kerja fisik bertahun-tahun, wajahnya menyimpan garis-garis kelelahan yang lebih tua dari usianya. Matanya menyipit menatap Raka, waspada seperti kebanyakan orang yang sudah lama terbiasa hidup berjaga-jaga.
"Cari siapa, Mas?"
"Saya... saya cari Rangga."
Lelaki itu terdiam, matanya menelusuri wajah Raka dengan cara yang aneh, seperti sedang mencocokkan sesuatu di ingatannya. "Saya Rangga. Situ siapa?"
"Nama saya Raka. Anaknya Pak Darma."
Nama itu membuat tubuh Rangga seketika kaku. Wajahnya berubah pucat, tangannya mencengkeram kusen pintu seolah butuh sesuatu untuk menopang dirinya.
"Bapak Darma... di mana beliau sekarang? Udah beberapa bulan ini saya nggak dapat kabar. Ponselnya nggak aktif, saya kira ganti nomor lagi."
Raka merasakan dadanya sesak, menyadari Rangga belum tahu sama sekali. "Ayah saya meninggal, Mas. Tiga bulan lalu."