Raka menghabiskan seminggu penuh mempersiapkan hari itu, membersihkan rumah dari sudut ke sudut, menata kursi-kursi tambahan di halaman, dan menelepon satu per satu enam orang yang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidupnya sejak beberapa bulan terakhir.
Ia tidak menjelaskan semua detail lewat telepon, hanya mengundang mereka untuk datang, mengenang seratus hari kepergian ayahnya bersama-sama, sebuah alasan yang cukup masuk akal untuk membuat semua orang bersedia hadir, meski Raka sendiri tahu, ada satu tujuan lain yang jauh lebih besar tersembunyi di balik undangan sederhana itu.
Suhardi datang pertama, diantar tetangganya menggunakan mobil pick-up tua, mengenakan kemeja terbaik yang ia punya, membawa sekantong ikan asin sebagai oleh-oleh khas kampungnya. Ia memeluk Raka erat begitu turun dari mobil, matanya sudah berkaca-kaca sebelum sempat mengucapkan sepatah kata pun.
Marlina tiba berikutnya, ditemani Mbak Wina dari sekretariat Solo, membawa sekotak kue keranjang yang katanya resep turun-temurun keluarganya. Ia tampak lebih tenang dari terakhir kali Raka menemuinya, meski masih menggenggam tas kecilnya erat-erat, seperti kebiasaan yang tidak pernah benar-benar hilang.
Yusuf datang sendirian, menggunakan bus antarkota, wajahnya masih menyimpan kewaspadaan khasnya, tapi ia sudah bersedia berjabat tangan dengan tamu-tamu lain tanpa ragu seperti dulu. Bu Endang tiba bersama dua murid lamanya yang menawarkan diri mengantar, membawa oleh-oleh getuk goreng yang langsung disambut antusias oleh semua orang.
Wisnu dan Ratna datang bersama-sama, dalam satu mobil yang sama, sebuah detail kecil yang tidak luput dari perhatian Raka, meski ia memilih untuk tidak bertanya lebih jauh, cukup senang melihat keduanya duduk berdampingan, sesekali bertukar senyum kecil yang terasa jauh berbeda dari kecanggungan yang ia saksikan lima bulan lalu di depan pintu rumah adik Ratna.
Raka menyambut mereka semua di halaman rumah yang sudah ia hias sederhana dengan lampu-lampu kecil dan kursi-kursi yang tersusun melingkar, menciptakan suasana yang lebih menyerupai kumpul keluarga besar dibanding acara formal mengenang seratus hari kematian.