Setelah tangis mereda dan Suhardi akhirnya melepaskan pelukannya, meski tangannya masih menggenggam lengan Joko erat-erat, seolah takut kehilangan lagi, suasana di halaman perlahan berubah menjadi lebih hangat, lebih santai, seperti kumpul keluarga besar yang sudah lama tidak bertemu.
Raka berkeliling, menyapa satu per satu tamunya, membawa piring berisi kue keranjang dan getuk goreng yang tercampur begitu saja di meja panjang yang disiapkan di tengah halaman. Di setiap perbincangan singkat, ia menemukan bahwa perjalanan yang mempertemukan mereka semua belum benar-benar berakhir, setiap orang masih membawa cerita mereka sendiri yang terus berkembang, jauh melampaui apa yang tertulis di enam kotak kayu itu.
Wisnu dan Ratna duduk berdampingan di bangku taman, cukup dekat untuk terlihat nyaman, tapi masih menjaga jarak sopan yang menandakan mereka belum sepenuhnya kembali ke masa lalu.
"Kami belum mikirin nikah lagi, Nak," kata Wisnu ketika Raka menghampiri, sedikit tersipu seperti anak muda yang tertangkap basah. "Tapi kami mulai makan siang bareng tiap minggu. Pelan-pelan aja."
Ratna tersenyum, menepuk tangan Wisnu pelan. "Empat puluh tahun kebersamaan nggak bisa diperbaiki dalam semalam. Tapi setidaknya sekarang kami ngobrol lagi. Itu udah lebih dari cukup buat sekarang."
Yusuf, yang tadinya paling canggung di antara semua tamu, mulai terlihat lebih rileks setelah beberapa jam, terutama setelah Bu Endang, dengan naluri keibuannya yang tidak pernah padam meski sudah pensiun puluhan tahun, menariknya ke dalam obrolan hangat tentang masa kecil masing-masing.
"Saya udah kirim surat ke anak saya yang sulung, Mas," kata Yusuf pelan saat Raka duduk di sampingnya. "Pakai surat pengakuan dari ayah Anda sebagai bukti. Belum dibalas, tapi setidaknya sekarang ada bukti kalau saya nggak sepenuhnya salah kayak yang mereka kira selama ini."