RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #30

Bab 30 - Tuduhan yang Tidak Pernah Dijawab

Malam itu, setelah tamu terakhir pulang dan rumah kembali sunyi, Raka duduk sendirian di ruang tamu, ditemani sisa-sisa kue dan gelas-gelas kosong yang belum sempat ia bereskan. Ia tidak buru-buru membersihkannya. Ia hanya duduk, membiarkan keheningan rumah itu menyelimutinya seperti biasa, tapi kali ini terasa berbeda, bukan keheningan yang menekan, melainkan keheningan yang mulai terasa damai.


Sebuah ingatan tiba-tiba muncul, jelas dan tajam, seperti baru terjadi kemarin meski sebenarnya sudah lebih dari lima belas tahun berlalu.


Ia berumur tujuh belas tahun saat itu, duduk di ruang tamu yang sama, menunggu ayahnya pulang setelah menghilang selama empat hari tanpa kabar. Ibunya baru saja meninggal beberapa bulan sebelumnya, dan Raka remaja, dipenuhi kemarahan yang tidak tahu harus diarahkan ke mana, sudah menyusun berbagai kemungkinan buruk di kepalanya sepanjang empat hari itu.


Ketika ayahnya akhirnya pulang, wajahnya lelah, matanya cekung, membawa tas yang sama seperti biasa tanpa penjelasan apa pun, Raka meledak.


"Ke mana aja, sih?!" teriaknya waktu itu, suaranya bergetar antara marah dan sedih yang tercampur aduk. "Ibu baru meninggal, dan Ayah malah sering-sering ninggalin saya sendirian! Kalau emang punya perempuan lain, bilang aja! Nggak usah pura-pura sibuk kerja terus!"


Ayahnya berdiri diam di ambang pintu, mendengarkan setiap kata itu tanpa membantah sedikit pun. Raka ingat betul ekspresi itu, bukan marah, bukan tersinggung, melainkan sesuatu yang jauh lebih berat, seperti seseorang yang menerima hukuman yang ia yakini pantas ia terima, meski tuduhannya sendiri sepenuhnya salah.

Lihat selengkapnya