Malam itu, amarah yang selama ini tertahan akhirnya pecah sepenuhnya.
Raka berdiri di tengah ruang tamu, buku harian ayahnya tergeletak terbuka di lantai, halaman-halamannya berantakan setelah ia membalik-baliknya kasar beberapa menit sebelumnya. Napasnya memburu, dadanya naik turun cepat, air matanya mengalir deras namun kali ini bukan air mata sedih yang lembut seperti malam-malam sebelumnya, ini air mata yang keluar bersamaan dengan kemarahan yang sudah terlalu lama ia tahan.
"Kenapa nggak pernah cerita?!" teriaknya ke ruangan kosong, suaranya memantul di dinding-dinding rumah yang sunyi. "Satu kali aja, Yah! Satu kali aja duduk, cerita jujur, bukannya bikin teka-teki lewat kotak-kotak ini!"
Ia meraih salah satu bantal sofa, melemparnya dengan keras ke seberang ruangan, tidak benar-benar peduli ke mana arahnya, hanya butuh sesuatu untuk melampiaskan energi yang menumpuk terlalu lama di dadanya.
"Saya kehilangan Ayah dua kali!" lanjutnya, suaranya mulai serak. "Pertama waktu Ayah masih hidup tapi nggak pernah benar-benar ada. Kedua waktu Ayah beneran meninggal, sebelum sempat saya bilang saya udah ngerti, sebelum sempat saya bilang saya nggak marah lagi!"
Ia teringat semua momen yang selama ini ia coba lupakan, ulang tahunnya yang ke-12, saat ayahnya berjanji akan pulang cepat tapi baru muncul tengah malam, membawa kue yang sudah dingin. Wisudanya, saat ayahnya datang terlambat, hanya sempat menyaksikan sesi foto terakhir sebelum semua orang bubar. Ratusan malam ia duduk sendirian mengerjakan tugas sekolah, menunggu suara motor yang kadang baru terdengar menjelang subuh.