RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #33

Bab 33 - Surat yang Terakhir

Pak Hasan menelepon keesokan paginya, suaranya terdengar lebih ringan dari biasanya. "Mas Raka, saya dapat laporan dari yayasan, semua kotak sudah sampai ke tangan yang tepat. Secara hukum, syarat wasiat sudah terpenuhi sepenuhnya."


"Terima kasih, Pak."


"Ada satu hal lagi, Mas. Ayah Anda titip satu amplop terakhir ke saya, khusus untuk diserahkan setelah semua syarat terpenuhi. Katanya, ini bukan bagian dari enam kotak itu. Ini murni titipan pribadi."


Raka merasakan jantungnya berdebar mendengarnya. Ia mengira sudah membaca semua yang perlu ia baca, surat di kotak keenam sudah cukup menjelaskan segalanya, cukup menjawab hampir semua pertanyaan yang selama ini menghantuinya. Tapi ternyata masih ada satu lagi, disimpan terpisah, sengaja ditahan sampai momen paling akhir.


Ia bergegas ke kantor notaris siang itu juga. Pak Hasan menyambutnya dengan senyum hangat, menyerahkan sebuah amplop kecil sederhana, jauh berbeda dari amplop-amplop lain yang selama ini penuh dengan kertas dan cerita rumit.


"Ayah Anda bilang, ini yang paling penting, Mas. Katanya, kalau semua kotak sudah sampai, berarti Anda sudah cukup kuat untuk membacanya."


Raka membuka amplop itu di mobil, sebelum sempat kembali ke rumah, tidak sanggup menunggu lebih lama lagi. Di dalamnya, hanya selembar kertas, jauh lebih pendek dari surat-surat lain yang pernah ia baca sepanjang perjalanan ini.


Nak,


Lihat selengkapnya