RUMAH YANG TIDAK PERNAH DITINGGALKAN

Putra Dewangga Candra Seta
Chapter #34

Bab 34 - Rumah yang Tidak Pernah Ditinggalkan

Tiga minggu setelah membaca surat terakhir ayahnya, Raka duduk di meja kerja yang sudah lama tidak ia sentuh sejak kembali dari kota lain, membuka laptopnya dan mulai menggambar untuk pertama kalinya sejak perjalanan panjang ini dimulai, bukan untuk proyek klien, bukan untuk gedung pencakar langit yang biasa ia kerjakan di kantor, melainkan untuk rumah yang sudah menemaninya sepanjang hidupnya sendiri.


Ia menggambar ulang denah rumah itu dari ingatan, menandai ruang-ruang yang bisa diperluas, dinding-dinding yang bisa dibongkar untuk menciptakan ruang bersama yang lebih besar, kamar-kamar tambahan yang bisa dibangun di bagian belakang yang selama ini hanya jadi gudang tak terpakai.


Ia sudah menelepon kantornya minggu lalu, mengajukan pengunduran diri secara resmi, keputusan yang mengejutkan rekan-rekan kerjanya, tapi terasa lebih ringan baginya dibanding keputusan apa pun yang pernah ia buat sepanjang karier arsitekturnya. Ia sudah cukup lama merancang gedung untuk orang-orang yang tidak pernah ia kenal. Kini saatnya merancang sesuatu yang benar-benar berarti, untuk orang-orang yang sudah menjadi bagian dari hidupnya sendiri.


Bu Retno dari yayasan datang berkunjung minggu berikutnya, membawa beberapa dokumen dan senyum penuh haru begitu Raka menceritakan rencananya.


"Ayah Anda pasti bahagia sekali, Mas," katanya, menatap sketsa-sketsa yang tersebar di meja. "Kami bisa bantu proses resminya, biar rumah ini jadi cabang resmi yayasan. Nanti bisa dapat dukungan lebih, relawan, donasi, macam-macam."


"Terima kasih, Bu. Saya juga udah ngobrol sama beberapa orang yang mau bantu."


Kata "beberapa orang" itu ternyata jauh lebih banyak dari yang mungkin dibayangkan siapa pun. Suhardi datang dari Muncar membawa keahlian pertukangannya yang tidak pernah sepenuhnya hilang meski usianya sudah tua, membantu memperbaiki bagian atap dan kusen-kusen yang mulai lapuk. Yusuf, dengan pengalaman bertahun-tahun di dunia konstruksi meski trauma dengan profesinya sendiri, akhirnya bersedia turun tangan langsung, mengawasi setiap detail struktur bangunan dengan ketelitian yang membuat Raka yakin proyek ini berada di tangan yang tepat.


Lihat selengkapnya