Tiga tahun setelah Yusuf mengirim surat berisi bukti kebenarannya kepada anak sulungnya, sebuah pesan singkat akhirnya masuk ke ponselnya suatu sore, saat ia sedang memperbaiki pagar rumah singgah bersama beberapa relawan muda.
"Pak, ini Dian. Saya baca surat itu. Bisa kita ketemu?"
Tangan Yusuf gemetar hebat membaca pesan itu, sampai-sampai obeng yang ia pegang terjatuh ke tanah tanpa ia sadari. Raka, yang kebetulan berada di dekatnya, segera menghampiri begitu melihat perubahan raut wajah Yusuf.
"Kenapa, Pak?"
Yusuf hanya bisa menyodorkan ponselnya, tidak sanggup mengucapkan sepatah kata pun, matanya sudah basah sebelum sempat menjawab.