RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #1

1. Rutinitas

Subuh baru saja berlalu ketika Tira sudah sibuk di dapur. Panci kecil berisi air untuk merebus sayuran mulai mendidih, sementara telur dadar di atas wajan mengeluarkan aroma harum yang perlahan memenuhi ruangan. Dia sesekali melirik kotak bekal berwarna merah muda milik anak sulungnya yang sudah terbuka di atas meja makan, menunggu untuk diisi.

Pagi hari selalu menjadi waktu tersibuk baginya. Meskipun sang suami sering membantu mengantar anak ke sekolah, tetap saja ada banyak hal yang harus disiapkan sebelum pukul tujuh tiba. Seragam yang harus dipastikan sudah rapi, botol minum yang perlu diisi ulang, dan tentu saja kebutuhan anak kedua yang sekarang semakin aktif dengan segala proyeknya.

Benar saja. Belum sempat Tira memindahkan telur ke piring, suara langkah kaki kecil terdengar dari arah kamar.

“Anak mama sudah bangun.”

Gadis kecil itu mengangguk, “Ma, mau susu.”

Tira tersenyum kecil sambil membalik telur dadar. "Tunggu sebentar ya. Mama lagi masak buat Kak Kala."

Sora menggeleng pelan. "Tidak, mau susu sekarang."

"Nanti ya, sayang. Sebentar lagi."

Belum sempat Sora merengek, Aksa keluar dari kamar sambil merapikan kancing lengan kemejanya. Dia mendekati putri bungsunya, lalu mengulurkan tangan.

"Sini."

Sora langsung berpindah ke pelukan ayahnya tanpa pikir panjang.

"Mau susu?" tanya Aksa.

Sora mengangguk pelan sambil menatap sang ayah.

"Baik, tunggu di sini."

"Iya."

Aksa berjalan menuju dispenser dan mulai menyiapkan susu, sementara Tira kembali fokus pada sarapan yang sedang dimasaknya. Tidak banyak percakapan di antara mereka. Tira bahkan sudah hafal, laki-laki itu memang bukan tipe yang banyak bicara setelah bangun tidur. Biasanya baru setelah secangkir kopi habis, jumlah kata yang keluar dari mulutnya bertambah sedikit. Aksa memang bukan tipe laki-laki yang pandai merangkai kata-kata manis, tetapi ia hampir selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Kala keluar beberapa menit kemudian dengan seragam merah putih yang sudah dikenakan rapi. Rambutnya masih sedikit berantakan, tetapi wajahnya tampak segar.

"Selamat pagi, Mama."

"Pagi. Sikat giginya nggak lupa kan?"

"Nggak dong." Gadis kecil berusia 8 tahun itu menunjukkan deretan giginya yang putih bersih.

Pagi di rumah mereka hampir selalu berjalan seperti itu. Tidak ada yang istimewa. Tidak ada percakapan romantis seperti di dalam drama. Hanya suara televisi yang sesekali menyala, aroma telur dadar dan bawang putih yang memenuhi dapur, serta langkah kaki kecil Sora yang terus berlarian ke sana kemari meskipun baru bangun tidur.

Aksa melihat jam di pergelangan tangannya.

“Ayo, Kak.”

Setelah mencium kepala Sora dan berpamitan singkat, Aksa menggandeng tangan Kala menuju teras. Suara mobil terdengar keluar dari pagar rumah, sebelum akhirnya menghilang di ujung jalan. Dan rumah mendadak menjadi lebih sunyi.

Sora kini sibuk menyusun balok warna-warni di ruang tamu sambil sesekali memanggil Tira untuk menunjukkan hasil karyanya. Tira sendiri berdiri di depan wastafel sambil mencuci piring bekas sarapan. Tangannya bergerak otomatis, seperti yang sudah dilakukannya hampir setiap hari selama delapan tahun terakhir.

Ia melirik kalender kecil yang ditempel di pintu kulkas. Tidak ada jadwal penting hari ini. Tidak ada acara yang harus dipersiapkan. Hanya ada daftar belanja mingguan yang ditulis dengan spidol hitam dan jadwal imunisasi Sora bulan depan.

"Mamaaaa."

Tira menoleh.

Sora tersenyum bangga sambil menunjukkan empat balok yang berhasil ditumpuknya.

"Lihat!"

Tira ikut tersenyum.

"Wah, hebat."

Sora bertepuk tangan senang sebelum kembali merobohkan susunannya sendiri dan mulai menyusun dari awal.

Tira mengeringkan tangannya menggunakan lap kecil yang tergantung di dekat wastafel. Ia memandangi putrinya beberapa saat, lalu tersenyum tipis. Rumah ini hangat. Anak-anaknya sehat. Suaminya baik. Setidaknya, itulah yang selama ini selalu ia katakan pada dirinya sendiri.

***

Menjelang pukul sebelas lewat tiga puluh menit, Tira mulai membereskan mainan Sora yang berserakan di ruang tengah. Putri kecilnya itu baru saja bangun tidur siang dan sedang duduk di sofa sambil memeluk kelinci kain kesayangannya.

"Jemput Kak Kala, yuk?"

Sora menoleh. "Ikut."

Lihat selengkapnya