RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #2

2. Mama Dulu Cita-citanya Apa?

Keesokan paginya, lembar tugas milik Kala masih tergeletak di atas meja makan. Sebagian besar kolom sudah terisi sejak semalam. Nama ayah, pekerjaan ayah, makanan kesukaan ayah, hingga warna favorit anggota keluarga sudah ditulis menggunakan pensil dengan huruf-huruf yang sedikit miring ke kanan. Hanya beberapa bagian yang sengaja Tira tinggalkan karena Kala sudah mengantuk dan berkali-kali menguap sambil memegang penghapus.

Kala duduk di kursi sebelah Tira sambil menggigit roti cokelat yang baru saja dipanaskan, gadis kecil itu sudah mengenakan seragam merah putihnya. Tira sedang sibuk di dapur. Wajan berisi nasi goreng masih mengepulkan asap tipis, sementara susu hangat untuk Sora sengaja dibiarkan di atas meja makan agar suhunya sedikit turun.

"Ma."

“Iya, kak?"

"Tugas Kakak belum selesai." Sesekali dia melihat lembar tugas itu, lalu menulis lagi dengan ekspresi serius yang membuat Tira tersenyum kecil.

"Ini tinggal sedikit lagi, Ma."

"Iya. Coba lihat apa yang belum."

Kala mendekatkan wajahnya ke kertas.

"Hobi ibu."

"Nah, itu."

Kala menoleh. "Mama hobinya apa?"

Tira yang sedang fokus pada masakannya sempat terdiam beberapa detik. Tangannya tetap bergerak, tetapi pikirannya mendadak kosong.

"Hobi ya..."

"Iya."

Kala mengayunkan kakinya pelan.

"Mama suka apa?"

Tira mengusap tangannya menggunakan lap kecil, lalu mendekati putri sulungnya yang sudah duduk di kursi makan. Kala memperlihatkan lembar biodata keluarga yang masih menyisakan dua kolom kosong. Sejenak dia berpikir sambil menatap wajah gadis kecil berusia 8 tahun itu, dulu pertanyaan seperti itu akan sangat mudah dijawab. Dia suka bekerja. Suka menyusun konsep acara. Suka mengecek ballroom sebelum tamu datang. Suka melihat meja-meja yang tertata rapi sesuai tema. Suka membaca Banquet Event Order sambil mencoret bagian yang perlu diperhatikan. Bahkan saat libur pun, dia sering membuka grup kerja hanya untuk memastikan acara berjalan lancar.

Namun, itu delapan tahun lalu. Sekarang hari-harinya diisi dengan mencari resep bekal sekolah, membandingkan harga minyak goreng di minimarket, menonton video cara menghilangkan noda spidol dari dinding, atau menenangkan Sora yang menangis hanya karena biskuitnya patah.

"Apa ya..." gumam Tira sambil tersenyum tipis.

Kala menunggu dengan sabar. "Mama suka baca?"

"Hm.. Nggak juga."

"Masak?"

"Setiap hari."

"Nah, berarti hobinya masak."

Tira terkekeh kecil. "Kalau masak tiap hari karena harus, namanya bukan hobi."

Kala terlihat berpikir. "Oh iya, ya. Lalu apa dong?"

Tira menggeleng pelan. "Mama juga belum tahu."

Kala kembali melihat lembar tugasnya. "Kalau cita-cita?"

"Hm?"

"Mama dulu cita-citanya apa?" Pertanyaan itu diucapkan begitu saja, seperti pertanyaan anak-anak pada umumnya. Tidak ada nada penasaran yang berlebihan, tidak ada kesedihan, bahkan Kala masih sibuk memutar pensil di sela-sela jarinya. Tira justru yang terdiam.

"Dulu Mama pengen kerja di hotel."

Lihat selengkapnya