Jujur saja pertanyaan Kala terus berputar di kepala Tira. Dia sempat berharap kesibukan kecil yang biasanya memenuhi harinya dapat mengalihkan pikiran, tetapi ternyata tidak. Pertanyaan sederhana dari seorang anak berusia delapan tahun justru lebih sulit dijawab daripada menentukan menu makan selama seminggu.
Sora masih terlihat asyik bermain balok warna-warni di ruang tengah sambil sesekali memanggil mamanya untuk menunjukkan susunan yang menurutnya sangat indah meskipun hanya terdiri dari tiga balok yang ditumpuk asal.
"Mama."
Tira menoleh dari keranjang pakaian yang sedang dilipatnya.
“Iya sayang?"
"Rumah."
Tira tersenyum kecil melihat susunan balok yang sudah hampir roboh itu.
"Wah, bagus."
"Bagus." Sora mengangguk puas, bertepuk tangan lalu menjatuhkan kembali susunannya sendiri sebelum mulai menyusun dari awal.
Tira terkekeh pelan. Anak kecil memang unik. Mereka tidak pernah terlalu memikirkan sesuatu yang sudah runtuh. Mereka hanya akan membangun lagi, menjatuhkannya lagi, lalu tertawa seolah tidak ada yang perlu disesali. Berbeda dengan orang dewasa. Ada beberapa hal yang runtuh, tetapi tidak pernah benar-benar dibangun kembali. Ada pula yang perlahan ditinggalkan begitu lama, sampai pemiliknya sendiri lupa bahwa ia pernah memilikinya.
Sora akhirnya tertidur setelah puas bermain balok dan meminta diceritakan kisah kelinci yang kehilangan wortelnya. Tira menarik selimut tipis hingga menutupi perut putri bungsunya, lalu berjalan keluar kamar sambil menutup pintu perlahan.
Rumah kembali tenang. Masih ada pakaian yang belum disetrika, tetapi Tira memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dia menuangkan teh hangat ke dalam cangkir putih kesayangannya, lalu duduk di sofa sambil membuka ponsel. Jemarinya bergerak otomatis membuka media sosial sebelum sebuah notifikasi muncul di bagian atas layar.
Nadia menandai Anda dalam sebuah postingan.
Tira mengernyit pelan. Sudah cukup lama dia tidak berbicara dengan Nadia. Sesekali mereka saling menyukai unggahan satu sama lain, mengucapkan selamat ulang tahun, atau membalas cerita singkat di media sosial, tetapi hanya sebatas itu.
Rasa penasaran membuat Tira membuka notifikasi tersebut. Sebuah foto lama memenuhi layar ponselnya. Belasan orang berdiri rapi di depan ballroom hotel. Sebagian tersenyum ke arah kamera, sebagian lagi terlihat kelelahan. Namun, perhatian Tira justru tertuju pada seorang perempuan yang berdiri di tengah. Rambutnya dicepol tinggi, kemeja putihnya tampak licin tanpa kusut sedikit pun, dan di tangannya tergenggam sebuah pulpen berwarna merah.
Tira terdiam. Perempuan itu adalah dirinya. Di bawah foto itu, Nadia menuliskan sebuah caption.
"Kadang kalau capek kerja, aku suka kangen masa-masa ini. Tim banquet paling chaos, paling sibuk, paling sering pulang tengah malam, tapi juga paling kompak. Dan tentu saja, tidak ada yang bisa menggantikan Mbak Tira dengan pulpen merahnya. Dulu aku pikir Mbak Tira bakal jadi Director of Events suatu hari nanti. Soalnya aku belum pernah lihat orang yang sesayang itu sama pekerjaannya."
Tira tersenyum tipis. Jarinya perlahan menggulir kolom komentar.
"Mana ada yang lupa Mbak Tira kalau briefing."
"Masih ingat banget kalau ada revisi BEO jam sebelas malam, Mbak Tira yang paling terakhir pulang."
"Mbak Tira itu atasan pertama yang pernah aku lihat ikut angkat kursi pas staf kurang orang."
"@tiraaluna ke mana aja mba? Kangen diomelin."
Tira terkekeh pelan. Sudah lama sekali dia tidak mendengar istilah-istilah itu.
BEO.
Table set up.
Coffee break.
VIP table.
Wedding package.
Semua istilah itu dulu adalah bagian dari hidupnya. Dia bahkan hafal isi beberapa paket pernikahan di luar kepala dan tahu persis berapa banyak meja yang dapat dimasukkan ke ballroom hanya dengan melihat layout ruangan.
Tanpa sadar, ibu jarinya berhenti tepat pada foto dirinya sendiri. Perempuan berusia dua puluh tiga tahun itu terlihat sangat berbeda. Tatapannya tajam, senyumnya penuh percaya diri, dan cara berdirinya menunjukkan seseorang yang tahu ke mana dia akan melangkah.
Tira menghela napas pelan. "Ya ampun..." gumamnya lirih.
"Ternyata aku pernah sesibuk itu."
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, Tira tidak hanya merindukan pekerjaannya. Dia merindukan dirinya sendiri.
***
Flashback Tira
Pagi itu sebenarnya tidak berbeda jauh dengan hari-hari lain. Tira sudah tiba di hotel sebelum pukul tujuh. Secangkir kopi yang dibelinya di kantin karyawan bahkan masih utuh di atas meja ruangannya karena sejak datang, dia belum sempat duduk lebih dari lima menit.
Hari itu ada dua acara besar yang berlangsung bersamaan. Ballroom utama digunakan untuk resepsi pernikahan dengan jumlah tamu hampir 1000 orang, sementara tiga meeting room di lantai dua dipakai untuk seminar perusahaan yang berlangsung hingga sore hari. Sejak semalam, grup koordinasi sudah ramai oleh revisi yang dikirim sales, mulai dari perubahan jumlah tamu, tambahan menu dessert, hingga permintaan dekorasi mendadak dari keluarga pengantin.