RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #4

4. Perempuan yang Selalu Dicari

Ballroom akhirnya mulai dipenuhi tamu. Musik instrumental terdengar pelan mengalun dari pengeras suara, sementara beberapa usher sudah berdiri di posisi masing-masing sambil menyambut tamu yang datang satu per satu.

Tira berdiri di dekat pintu masuk ballroom sambil sesekali memperhatikan jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Acara baru berjalan sekitar dua puluh menit dan sejauh ini semuanya berlangsung sesuai rundown. Pengantin sudah memasuki ruangan, keluarga besar tampak tersenyum lega, dan wedding organizer yang sejak pagi nyaris menangis kini bahkan sempat tertawa bersama fotografer.

"Mbak Tira."

Seorang staf banquet menghampirinya sambil membawa sebuah baki kecil.

"Kenapa?"

"Minum dulu."

Tira menoleh. Di atas baki itu terdapat segelas air mineral dan sepotong roti isi yang dibungkus plastik bening.

"Ini dari siapa?"

"Kami patungan."

Tira terkekeh pelan. "Buat apa?"

"Buat Mbak."

"Kenapa?"

"Soalnya Mbak belum sarapan."

Tira menerima roti itu sambil tersenyum kecil.

"Aku lupa."

"Memang."

"Memang apa?"

"Kalau lagi ramai, Mbak suka lupa kalau Mbak juga manusia."

Tira tertawa pelan sambil membuka bungkus roti tersebut.

"Nanti kalau pingsan?"

Seorang staf laki-laki ikut menyahut. "Ya tinggal kami gotong."

"Enak aja."

Tira menggigit rotinya sedikit. "Kalau pingsan pun nanti habis acara."

"Jangan gitu, Mbak."

"Anak banquet memang hidupnya begitu."

Mereka tertawa bersama sebelum akhirnya kembali ke pekerjaan masing-masing.

Setelah memastikan tidak ada komplain dari tamu, Tira memutuskan berjalan menuju kantin karyawan untuk membeli kopi. Hari sudah mendekati pukul sebelas siang dan kepalanya mulai terasa sedikit berat.

Dia baru saja menerima secangkir kopi panas ketika handy talky di pinggangnya kembali berbunyi.

"Tira monitor."

"Tira masuk."

"Mbak, tambahan usher yang tadi minta sudah datang. Tapi mereka tanya briefing sama siapa."

Tira menyesap kopinya sebentar.

"Saya ke sana."

"Baik."

Tira menghela napas pelan sambil melihat kopinya yang bahkan belum sempat diminum.

"Kasihan banget ya kopinya," gumamnya pelan.

Dia kembali berjalan menuju ballroom sambil membawa gelas kertas di tangan kanan.

Di depan pintu ballroom, dua orang usher tambahan sudah berdiri sambil membawa map kecil.

Tira menjelaskan posisi mereka dengan cepat, memastikan mereka memahami alur acara hingga sesi foto keluarga. Saat itulah seorang laki-laki mendekat sambil membawa clipboard berisi beberapa lembar laporan.

"Selamat siang."

Tira menoleh.

"Siang."

"Saya Aksa."

Laki-laki itu mengulurkan tangan dengan sopan.

"MOD hari ini."

Tira membalas jabatan tangan itu singkat.

"Tira."

Lihat selengkapnya