RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #5

5. Tanpa Sengaja Menyakiti

Hari Sabtu selalu terasa sedikit berbeda di rumah Tira. Aksa tidak perlu berangkat bekerja pagi-pagi, sehingga sarapan berlangsung lebih santai dari biasanya. Kala bahkan sempat membantu menggoreng telur meskipun hasilnya lebih banyak membuat Tira deg-degan daripada merasa terbantu, sementara Sora sibuk mondar-mandir membawa sendok plastik yang entah sejak kapan dianggapnya sebagai mikrofon.

"Aku penyanyi," katanya sambil berdiri di atas karpet ruang tamu.

Kala yang sedang menyusun potongan telur di atas piring langsung menimpali, "Kalau penyanyi harus nyanyi."

Sora menggeleng mantap. "Malu."

Aksa yang baru selesai menuang kopi tertawa kecil. Dia duduk di kursi makan sambil memperhatikan putri bungsunya yang kini berpindah profesi menjadi dokter.

"Lho, tadi katanya penyanyi."

"Sekarang tidak lagi."

"Berubahnya cepat ya."

"Iya."

Jawaban polos itu membuat mereka tertawa bersamaan. Suasana rumah kembali dipenuhi percakapan kecil yang mungkin akan terdengar biasa bagi orang lain. Kala bercerita tentang teman sebangkunya yang lupa membawa buku gambar, Sora sibuk menunjukkan hasil coretan krayon yang menurutnya adalah gambar kupu-kupu meskipun lebih menyerupai lingkaran berwarna-warni, sementara Aksa beberapa kali menyelipkan komentar singkat yang selalu berhasil membuat kedua anaknya tertawa.

Setelah sarapan selesai, Tira mulai membereskan meja makan. Aksa menghampirinya sambil membawa dua piring kotor menuju wastafel.

"Nggak usah," ujar Tira.

"Nggak apa-apa."

"Aku aja."

Aksa menggeleng pelan. "Cepat selesai kalau berdua."

Tira tidak membalas. Dia hanya tersenyum sambil melanjutkan mencuci piring di sebelah suaminya.

"Aku kepikiran," ucap Aksa setelah beberapa saat.

"Tentang apa?"

"Nanti siang ke rumah Ibu, ya."

Tira menoleh sebentar. "Hari ini?"

"Iya. Kemarin Ibu bilang sudah lama nggak lihat Kala dan Sora."

Tira mengangguk pelan. "Boleh."

Sekitar pukul sebelas, mereka berangkat menggunakan mobil. Kala duduk di bangku belakang sambil memangku sebuah buku gambar, sedangkan Sora sibuk menunjuk kendaraan yang melintas dari balik jendela.

"Ma."

"Iya?"

"Itu truk." Sora menunjuk ke arah di mana sebuah truk berjalan.

"Iya."

"Itu bus."

"Iya."

"Itu motor."

"Iya."

"Mama tahu kan."

Tira menoleh sambil tersenyum. "Mama tahu kok."

"Adek juga tahu."

Perjalanan menuju rumah orang tua Aksa hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit. Begitu mobil berhenti di halaman, Sora langsung turun sambil berlari kecil menuju pintu rumah.

"Nenek!"

Pintu terbuka tidak lama kemudian.

"Cucu Nenek datang."

Ibu Aksa membungkukkan badan untuk memeluk Sora yang tertawa kegirangan. Kala menyusul di belakang sambil mencium tangan neneknya, kemudian disusul Aksa dan Tira.

"Masuk dulu semuanya," ujar beliau sambil mempersilakan mereka masuk.

Lihat selengkapnya