Beberapa hari terakhir Tira merasa isi rumahnya semakin penuh. Bukan karena ada barang baru, melainkan karena semakin sering dia menemukan benda-benda lama yang selama ini seolah menghilang dari ingatannya. Pantofel hitam yang ditemukan Kala beberapa hari lalu masih diletakkan rapi di atas lemari. Dia belum sempat memasukkannya kembali ke dalam kotak. Entah kenapa, setiap kali melihatnya, ada bagian dari dirinya yang memilih berhenti sejenak.
Pagi itu, setelah Aksa dan Kala berangkat, memastikan Sora kembali tertidur usai sarapan, Tira memutuskan membereskan lemari di kamar mereka. Sudah lama dia ingin melakukannya, tetapi selalu ada pekerjaan lain yang terasa lebih mendesak. Hari ini, untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir, rumah terasa sedikit lebih tenang.
Dia menggeser beberapa kotak penyimpanan yang tersusun di rak paling atas. Sebagian berisi pakaian bayi Sora yang sudah kekecilan, sebagian lagi berisi map-map lama yang belum pernah disentuh lagi. Debu tipis menempel di permukaannya hingga membuat Tira beberapa kali bersin pelan.
"Kayaknya memang sudah waktunya diberesin," gumamnya.
Satu per satu isi kotak dipindahkan ke lantai. Ada album foto pernikahan, beberapa kartu ucapan ulang tahun dari rekan kerja, hingga name tag hotel yang dulu selalu menggantung di dadanya. Tira memegang name tag itu beberapa saat sebelum mengusap permukaannya menggunakan ibu jari.
Tira Aluna
Event & Banquet Supervisor
Dia menghela napas pelan, lalu meletakkannya kembali. Saat hendak menutup kotak, pandangannya tertuju pada sebuah buku bersampul cokelat tua yang terselip di bagian paling bawah. Sudut-sudutnya sudah mulai kusam, tetapi karetnya masih melingkar rapi mengikat halaman-halamannya.
Tira mengernyit pelan. "Ini apa ya?"
Karet pengikat itu dilepaskannya perlahan. Begitu halaman pertama terbuka, tulisan tangannya sendiri langsung memenuhi hampir seluruh kertas.
Wedding Package – Grand Ballroom
Di bawahnya terdapat daftar panjang yang ditulis menggunakan tinta hitam. Jumlah tamu. Layout meja. Jadwal food testing. Nomor telepon vendor bunga. Catatan kecil mengenai permintaan khusus keluarga pengantin. Beberapa bagian bahkan masih diberi garis merah menggunakan pulpen yang dulu selalu dibawanya ke mana-mana. Tira tersenyum tanpa sadar.
"Masih rapi banget."
Dia membalik halaman berikutnya. Masih berisi daftar pekerjaan. Halaman setelahnya juga sama. Hampir seluruh isi buku dipenuhi catatan rapat, jadwal acara, revisi Banquet Event Order, hingga coretan-coretan kecil yang hanya bisa dipahami oleh dirinya sendiri.
Jemarinya terus membalik halaman hingga berhenti di bagian belakang buku. Tulisan di halaman itu berbeda. Tidak ada daftar pekerjaan, angka ataupun jadwal. Hanya beberapa paragraf yang ditulis menggunakan tinta biru. Tira membaca pelan.
"Semua tamu akan mengingat indahnya dekorasi, enaknya makanan, atau megahnya ballroom. Mereka akan pulang membawa foto-foto yang cantik. Jarang ada yang tahu kalau sejak pukul lima pagi ada orang-orang yang berlari sambil membawa kursi, mengganti taplak yang terkena noda, atau menenangkan pengantin yang hampir menangis karena bunga datang terlambat. Kadang aku berpikir, pekerjaan kami memang seperti itu. Kami bekerja sebaik mungkin agar orang lain bisa menikmati harinya tanpa menyadari berapa banyak kekacauan yang berhasil kami sembunyikan."
Tira berhenti membaca. Bibirnya perlahan membentuk senyum tipis.
"Ini... aku yang nulis?"
Dia benar-benar lupa pernah menuliskan itu. Dia kembali melanjutkan membaca.