Pagi itu rumah terasa sedikit lebih santai dari biasanya. Kala tidak perlu berangkat ke sekolah karena guru-guru sedang mengikuti rapat kerja, sementara Aksa tetap harus masuk seperti hari-hari lainnya. Sejak bangun tidur, gadis kecil itu sudah sibuk mondar-mandir membawa berbagai macam barang yang menurutnya penting untuk dibawa ke rumah nenek. Sesekali dia membuka kembali ransel berwarna birunya, memastikan buku gambar, kotak pensil warna, dan permainan ular tangga masih berada di dalam.
"Ma, kalau Kakak bawa bola boleh nggak?" tanyanya sambil berdiri di depan pintu kamar.
Tira yang sedang menuangkan susu hangat ke dalam botol milik Sora menoleh sekilas. Senyum kecil langsung terbit di sudut bibirnya melihat putri sulungnya itu tampak begitu bersemangat.
"Rumah Nenek bukan lapangan bola, Kak."
"Tapi halaman belakangnya luas."
"Iya, tapi nanti lihat dulu. Jangan semua isi rumah dibawa."
Kala mengangguk patuh meskipun beberapa detik kemudian masih sempat menimang-nimang bola kecil di tangannya sebelum akhirnya mengembalikannya ke rak.
Di ruang makan, Sora duduk di kursi kecil sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya. Matanya masih terlihat berat karena baru bangun tidur. Roti tawar yang sudah diolesi selai cokelat digigitnya sedikit demi sedikit, sesekali kepalanya mengangguk pelan menahan kantuk.
Aksa keluar dari kamar dengan kemeja biru muda yang lengan kirinya masih belum dikancingkan. Rambutnya yang masih sedikit basah menandakan dia baru selesai mandi. Dia menghampiri meja makan, meraih cangkir kopi yang sudah disiapkan Tira, lalu menyesapnya pelan sebelum pandangannya beralih ke tas besar yang tergeletak di dekat pintu.
"Kamu bawa buah buat Mama?" tanyanya sambil berjalan mendekati tas itu.
Tira yang sedang menutup botol susu Sora spontan menoleh.
"Ya ampun."
"Apa?"
"Lupa."
Aksa terkekeh kecil. Dia mengambil kantong berisi apel dan jeruk yang masih berada di atas meja dapur, lalu memasukkannya ke dalam tas tanpa banyak bicara. Jemarinya sempat berhenti ketika melihat kotak obat pereda nyeri masih berada di tempat yang sama seperti beberapa hari terakhir.
"Pinggangmu gimana?"
"Udah mendingan."
Aksa mengangguk pelan. Kotak obat itu dirapikannya ke dalam kantong depan tas agar lebih mudah dijangkau.
"Obat dan vitaminnya di bawa."
"Iya."
Jawaban Tira terdengar ringan. Dia sudah hafal, suaminya memang lebih sering menunjukkan rasa khawatir lewat hal-hal seperti itu daripada mengucapkannya dengan kata-kata.
Beberapa menit kemudian, semua barang akhirnya siap dibawa. Tira duduk di bangku kecil dekat pintu untuk mengenakan sepatu. Baru saja dia memasukkan kaki kirinya, tali sepatu sebelah kanan terlepas karena tanpa sengaja terinjak sendiri.
"Ya ampun," gumamnya pelan sambil membungkukkan badan.
Belum sempat jemarinya menyentuh tali sepatu itu, Aksa yang baru saja mengambil kunci mobil lebih dulu berjongkok di hadapannya.
"Lho."
"Apa?" tanyanya santai tanpa menghentikan tangannya yang sedang merapikan simpul tali.
"Aku bisa."
"Aku tahu."
"Lalu kenapa diikatin?"