RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #9

9.Rumah yang Selalu Menunggu

Pukul lima sore hampir tiba ketika sebagian besar ruang administrasi di lantai belakang hotel mulai lengang. Beberapa staf terlihat sudah merapikan meja kerja masing-masing, sementara sebagian lainnya masih menyelesaikan laporan sebelum benar-benar mengakhiri hari. Di balik pintu bertuliskan Front Office Manager, lampu ruangan masih menyala.

Aksa menutup map terakhir yang sejak tadi dibacanya, kemudian membubuhkan tanda tangan di sudut kanan bawah sebelum meletakkannya di sisi meja. Laptop di hadapannya masih menampilkan laporan okupansi tiga hari ke depan yang tadi sempat dibahas dalam rapat Head of Department. Jemarinya kembali bergerak di atas touchpad, memastikan tidak ada catatan yang terlewat sebelum akhirnya layar itu ikut ditutup.

Ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

"Masuk."

Rio, Front Office Supervisor, melangkah masuk sambil membawa sebuah map berwarna biru. "Pak, laporan room discrepancy yang tadi sudah selesai dicocokkan dengan Housekeeping."

Aksa menerima map itu tanpa banyak bicara. Matanya menyusuri setiap halaman dengan teliti sebelum berhenti pada satu baris yang diberi stabilo kuning.

"Kenapa status kamar 821 baru berubah jam dua siang?" tanyanya sambil mengangkat kepala.

Rio mendekat beberapa langkah. "Tadi ada keterlambatan update dari Housekeeping, Pak. Begitu mereka konfirmasi kamar sudah bersih, tim langsung ubah statusnya."

Aksa mengangguk pelan. Dia tidak terlihat marah ataupun mengernyit. Jemarinya hanya mengetuk pelan bagian map yang tadi dibacanya.

"Besok waktu morning briefing, ingatkan lagi tim supaya status kamar jangan menunggu tamu datang dulu baru diperiksa. Hal kecil seperti ini bisa bikin antrean check-in lebih panjang."

"Baik, Pak."

Rio mengangguk cepat. Dia sudah terbiasa dengan cara kerja atasannya. Pak Aksa tidak pernah meninggikan suara ketika menemukan kesalahan, tetapi hampir tidak ada detail yang luput dari perhatiannya.

"Oh ya," lanjut Aksa sambil menutup map itu, "VIP arrival besok sudah final?"

"Sudah, Pak. Tiga kamar. Permintaan khususnya juga sudah kami teruskan ke Housekeeping dan Chef."

"Airport transfer?"

"Sudah dikonfirmasi."

"Oke."

Rio mengangguk sekali lagi sebelum berpamitan keluar. Baru saja tangannya menyentuh gagang pintu, Aksa kembali memanggilnya.

"Rio."

"Iya, Pak?"

"Laporan forecast minggu depan jangan lupa kirim ke saya malam ini. Saya mau pelajari dulu sebelum meeting besok."

"Siap, Pak."

Setelah pintu kembali tertutup, ruangan itu kembali hening. Aksa melirik jam tangan di pergelangan kirinya. Jarum panjang sudah melewati angka tiga.

Pukul lima lewat delapan belas menit. Dia menyandarkan tubuh sejenak di kursi, mengingat sesuatu. Pagi tadi, sebelum berangkat bekerja, dia mengantar Tira bersama kedua anak mereka ke rumah orang tua Tira. Sudah lama istrinya tidak menghabiskan waktu seharian di sana. Aksa bahkan sempat melihat senyum yang berbeda di wajah perempuan itu ketika mobil memasuki halaman rumah mertuanya. Senyum yang terasa lebih ringan.

Ponselnya bergetar pelan di atas meja. Tertulis Istri dengan satu emot hati berwarna merah. Sebuah foto masuk melalui aplikasi pesan. Kala sedang berdiri di pinggir kolam sambil memegang pancing mainan dengan wajah penuh kebanggaan, sementara Sora duduk di pangkuan neneknya sambil memakan potongan semangka. Di sudut foto, Tira ikut tertangkap kamera. Dia sedang tertawa ke arah ayahnya yang entah sedang mengatakan apa.

Tanpa sadar sudut bibir Aksa terangkat tipis. Belum sempat dia membalas pesan itu, ketukan kembali terdengar dari pintu.

"Pak."

Kali ini seorang staf resepsionis masuk sambil membawa beberapa lembar dokumen.

"Guest comment untuk minggu ini sudah direkap, Pak."

Aksa menerima berkas itu sekilas, lalu membacanya cepat.

"Bagus."

Hanya satu kata itu yang keluar. Namun, senyum lega langsung terlihat di wajah staf tersebut.

"Terima kasih, Pak."

Aksa mengembalikan dokumen itu sambil menunjuk satu bagian. "Komentar tamu soal proses check-in lebih cepat dibanding minggu lalu. Pertahankan."

"Iya, Pak."

Lihat selengkapnya