RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #10

10. Yang Selama Ini Terlewat

Malam sudah benar-benar turun ketika mobil mereka berhenti di halaman rumah. Lampu teras menyala redup, menerangi langkah Aksa yang lebih dulu turun untuk membuka pintu belakang. Kala masih tertidur di car seat dengan kepala sedikit miring, sementara Sora memeluk boneka kelincinya begitu erat seolah takut ada yang mengambilnya.

"Aku gendong Sora ya," ujar Tira pelan sambil membuka pintu belakang.

Aksa mengangguk. Dia lebih dulu melepaskan sabuk pengaman Kala, lalu mengangkat tubuh putri sulungnya dengan hati-hati agar tidak terbangun. Kala hanya bergumam pelan sebelum kembali menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.

Tira tersenyum kecil melihat pemandangan itu. Sudah berkali-kali dia melihat Aksa menggendong anak-anak mereka, tetapi setiap kali pula ada perasaan hangat yang sulit dijelaskan. Laki-laki itu memang tidak banyak bicara, namun selalu tahu bagaimana membuat kedua putrinya merasa aman, bahkan ketika sedang tertidur.

Mereka masuk ke dalam rumah tanpa banyak percakapan. Aksa membawa Kala ke kamarnya lebih dulu, sedangkan Tira membaringkan Sora di tempat tidur kecil yang berada di sisi ranjang mereka. Gadis kecil itu sempat membuka mata beberapa detik, mencari pelukan ibunya, lalu kembali terlelap setelah Tira mengusap pelan rambutnya.

Tira keluar dari kamar sambil merapikan anak rambut yang terlepas dari ikatannya. Hari sudah hampir pukul sembilan malam. Biasanya setelah jam seperti ini masih ada beberapa pekerjaan kecil yang menunggunya. Bekal sekolah Kala, botol minum perlu dibersihkan, seragam untuk besok disiapkan, lalu mengecek apakah ada tugas sekolah yang belum dimasukkan ke dalam tas.

Dia melangkah menuju dapur, tetapi langkahnya mendadak terhenti. Kotak bekal berwarna merah muda milik Kala sudah terbalik di rak pengering piring. Botol minumnya juga sudah dicuci bersih dan diletakkan di sampingnya. Bahkan kotak makan Sora yang dipakai siang tadi pun sudah tidak terlihat di dalam tas yang mereka bawa.

Tira mengernyit pelan. "Perasaan tadi belum..."

Dia membuka lemari dapur, memastikan dirinya tidak salah lihat. Memang benar. Semua sudah bersih.

Pelan-pelan dia berjalan menuju ruang setrika yang berada di samping ruang keluarga. Dugaan itu langsung terjawab begitu melihat Aksa berdiri di depan meja setrika dengan lengan kemeja yang digulung hingga siku. Di atas meja, seragam merah putih Kala sudah terbentang rapi, sementara setrika di tangannya bergerak perlahan menghilangkan lipatan-lipatan kecil pada bagian lengan baju.

"Kamu ngapain?" tanya Tira sambil bersandar di kusen pintu.

Aksa tidak langsung menjawab. Dia baru meletakkan setrika pada posisi berdiri sebelum menoleh.

"Nyetrika."

"Aku juga tahu itu nyetrika."

Aksa tersenyum tipis.

"Tadi kotak bekalnya juga kamu yang cuci?"

"Iya."

"Kenapa?"

Aksa kembali menggerakkan setrikanya pelan.

Lihat selengkapnya