RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #11

11. Halaman Pertama

Pagi kembali datang bersama rutinitas yang sudah begitu akrab bagi Tira. Setelah Aksa berangkat bekerja dan Kala diantar ke sekolah seperti biasa, rumah perlahan kembali tenang. Sora yang sejak tadi sibuk mengikuti ibunya ke mana-mana akhirnya tertidur di sofa setelah puas bermain balok warna-warni sambil memeluk boneka kelinci kesayangannya.

Tira menurunkan volume televisi, lalu mengangkat tubuh mungil putrinya dengan hati-hati menuju kamar. Setelah memastikan selimut tipis menutupi perut Sora, dia menutup pintu perlahan agar suara dari luar tidak membangunkannya.

Rumah kembali menjadi sunyi. Namun, kesunyian di rumah tidak pernah benar-benar berarti pekerjaan ikut selesai. Masih ada beberapa pakaian yang harus dilipat dan lantai dapur yang belum sempat dipel. Namun entah kenapa, pagi itu Tira tidak langsung mengambil sapu atau keranjang cucian. Langkahnya justru berhenti di depan lemari kamar, tepat di rak paling atas tempat sebuah buku bersampul cokelat tua masih diletakkan sejak beberapa hari lalu.

Dia mengulurkan tangan, mengambil buku itu perlahan, lalu membawanya ke meja makan bersama secangkir teh hangat yang baru saja diseduh.

Beberapa halaman pertama kembali dibacanya. Tulisan-tulisan lama tentang ballroom, Banquet Event Order, hingga catatan kecil yang dulu ditulisnya setelah acara selesai masih memenuhi hampir setiap lembar. Sesekali sudut bibirnya terangkat ketika menemukan coretan yang bahkan sudah tidak lagi diingat pernah dibuat.

"Masih rapi banget," gumamnya pelan sambil membalik halaman berikutnya.

Semakin ke belakang, tulisan itu semakin jarang. Hingga akhirnya dia berhenti pada beberapa lembar kosong yang selama ini belum pernah disentuh.

Tira meletakkan buku itu di atas meja. Jemarinya mengambil pulpen yang tadi sengaja dibawa dari kamar. Ujung pulpen itu sudah menyentuh kertas, tetapi beberapa menit berlalu tanpa satu kata pun berhasil ditulis.

Dia mengembuskan napas pelan. "Ternyata susah juga."

Dulu dia bisa menyusun rundown acara untuk seribu tamu tanpa berpikir terlalu lama. Menentukan urutan prosesi, membagi tugas puluhan staf, bahkan menyelesaikan masalah yang datang bersamaan terasa jauh lebih mudah dibanding menulis satu kalimat tentang dirinya sendiri.

Pulpen itu kembali diangkat lalu diturunkan lagi, tak lama dia mengangkatnya lagi.

Lalu... Dengan perlahan dia mulai menulis.

Hari ini aku ingin mencoba mengenal diriku lagi.

Tira membaca kalimat itu beberapa kali. Kalimat itu tampak sederhana bahkan terasa biasa saja. Namun, untuk alasan yang tidak bisa dijelaskan, dadanya mendadak terasa hangat.

Baru saja dia hendak menulis kalimat kedua, suara tangisan kecil terdengar dari arah kamar.

"Mama..."

Tira langsung menutup bukunya tanpa berpikir dua kali, lalu bergegas menghampiri Sora yang baru saja terbangun.

"Iya, sayang." Dia mengusap pelan rambut putrinya yang masih berantakan. "Bangun ya?"

Sora mengangguk pelan sambil merentangkan kedua tangannya minta digendong. "Mau susu."

"Iya. Mama bikinin."

Buku cokelat itu kembali tertutup dan pulpennya diletakkan begitu saja di atas meja. Kalimat pertama yang tadi ditulis bahkan belum sempat mengering sempurna ketika Tira kembali menjalani rutinitasnya sebagai seorang ibu.

Lihat selengkapnya