RUMAH YANG TIDAK PERNAH KU PAHAMI

Nathania
Chapter #12

12. Libur yang Tidak Pernah Libur

Hari Minggu biasanya menjadi satu-satunya hari ketika alarm di ponsel Aksa tidak berbunyi sebelum matahari terbit. Namun, berbeda dengan suaminya, Tira tetap terbangun pada jam yang sama seperti hari-hari lainnya. Bahkan sebelum langit benar-benar terang, dia sudah berada di dapur menyiapkan sarapan sambil merebus air dan menanak nasi.

Suara langkah kaki pelan terdengar dari belakang. Aksa keluar dari kamar dengan kaus rumahan berwarna abu-abu dan rambut yang masih sedikit berantakan. Dia menguap pelan sebelum berjalan menuju dapur, lalu berhenti ketika melihat istrinya sedang mengiris bawang.

"Kenapa masak sepagi ini?" tanyanya sambil membuka kulkas untuk mengambil sebotol air minum.

Tira tersenyum kecil tanpa menghentikan gerakan pisaunya. "Udah kebiasaan."

Aksa mengangguk pelan. Tatapannya beralih ke meja dapur yang sudah dipenuhi beberapa bahan masakan. "Mau masak apa?" tanyanya lagi sambil menyandarkan sebelah bahu ke kusen dapur.

"Sayur bening sama ayam goreng," jawab Tira pelan.

"Lama?"

"Nggak juga.

Aksa terdiam beberapa detik sebelum kembali menutup pintu kulkas.

"Hari ini beli aja, yuk."

Pisau di tangan Tira berhenti sesaat. Dia menoleh sambil mengernyit kecil. "Lho, kenapa?"

"Biar kamu nggak masak."

Tira terkekeh pelan sebelum kembali mengiris bawang. "Masak cuma sebentar kok."

"Aku bantuin, ya."

"Nggak usah, aku bisa."

Aksa menyandarkan punggungnya pada meja dapur sambil memperhatikan istrinya yang kembali mengiris bawang dengan gerakan cepat. "Libur itu harusnya ikut libur."

Tira menoleh sekilas, lalu tersenyum geli. "Kalau ibu rumah tangga ikut libur, nanti kita makan apa?"

"Mie instan."

Jawaban datar itu membuat Tira tertawa. "Kamu serius?" tanyanya sambil menggeleng pelan.

"Nggak sih."

"Tuh kan."

Aksa ikut tersenyum tipis. "Yaudah... masaknya yang gampang aja."

*

Menjelang siang, Kala sudah selesai mengerjakan tugas sekolah yang diberikan gurunya untuk dikumpulkan hari Senin. Sementara itu, Sora sibuk mengelilingi ruang tamu sambil membawa ember kecil berisi mainan, seolah sedang memindahkan harta karun dari satu tempat ke tempat lain.

"Adek lagi apa?" tanya Aksa sambil duduk bersila di atas karpet ruang tamu.

Sora yang sedang menyeret ember plastik kecil berhenti sebentar, lalu mendongakkan kepala.

"Pindahan."

"Mau pindah ke mana?" Aksa mengikuti arah telunjuk putrinya.

"Ke situ." Sora menunjuk sudut ruangan yang bahkan jaraknya tidak sampai dua meter.

"Oh."

Lihat selengkapnya